HUMANISME JEAN PAUL SARTRE
Membahas mengenai manusia dan perilakunya memang tidak akan ada habisnya. Setiap perjalanan, setiap perubahan zaman – konsep manusia selalu mengalami perubahan. Tidak terlepas pada penghujung abad ke-20, digaungkannya kembali aliran filsafat eksistensialisme oleh Jean Paul Sartre. Sejak itulah pembahasan tentang kemanusiaan mulai diangkat kembali yang di latarbelakangi oleh ketikdak cocokan atau kesalahan pada konsep materialisme dan marxisme, yang menganggap bahwa manusia hanyalah sebuah materi atau obyek semata, dan mengingkari bahwa manusia adalah subjek yang berkesadaran (manusia utuh).
Salah satu ciri manusia yang memiliki kesadaran adalah memiliki kebebasan (Freedom) untuk bepikir dan berbuat. Sartre mengatakan:
“Aku dikutuk bebas, ini berarti bahwa tidak ada batasan atas kebebasanku, kecuali kebebasan itu sendiri, atau jika mau , kita bebas untuk berhenti bebas”.
Namun menurut Sartre kebebasan itu adalah kutukan. Karena tidak akan berhenti kepada kebebasan itu sendiri, kedepannya ada konsekuensi yang harus ditanggung, ada Hasrat yang harus dipenuhi, saya lapar maka saya harus makan, dan untuk tetap kenyang seutuhnya manusia tidak bisa hanya dengan sekali makan, maka kegiatan-kegiatan mengisi perut akan terus menjadi rutinitas disetiap manusia merasakan lapar atau haus. Begitupun hal yang sebenarnya tdk terlalu pokok, misal kita memebeli skincare untuk membuat wajah kita glowing keling-keling, meskipun sebanyak apapun usaha-usaha yang kita tunaikan, mau tidak mau nantinya pasti ada efek samping atau faktisitas-faktisitas yang harus diterima.
Karena manusia diciptakan sebagai makhluk yang bernalar, tentunya sangat tidak pantas disamakan layaknya bebek. Kejadian bebek melakukan hubungan biologis ditempat umum tentunya tidak akan ada hukum yang menyentuh, karena perilaku bebek termasuk instingtif. Berbeda dengan manusia, pasti masuk kedalam hukum dan dianggap salah, karena manusia memiliki kehendak untuk tidak melakukan perbuatan itu, senada dengan apa yang disampaikan filsuf stoic, Seneca dalam bukunya Letter from a stoic, disampaikan bahwa:
“ Manusia tidak memiliki kuasa untuk memiliki apapun yang dia mau, tetapi manusia memiliki kuasa untuk tidak mengingini apa yang belum dia miliki, dan dengan gembira memaksimalkan apa yang ia terima”
Namun dari semua itu, dari bahasa kutukan, justru manusia akan memberikan satu porsi besar untuk ditempatkannya sebuah gerakan humanisasi. Karena merasa perlu setiap manusia akan menanggung konsekuensi atas apa yang telah diperbuat, maka dihadirkanlah Humanisme oleh Sartre, agar setiap kebebasan tidak dipahami sebagai sesuatu hal yang boleh dilakukan seenaknya saja, tanpa mempertimbangkan output kepada lingkungan.
Biografi singkat dan Kritik
Jean Paul Sartre merupakan seorang Filsuf kontemporer yang berasal dari prancis. Beliau lahir pada tanggal 21 juni 1905 di Paris dan wafat pada 15 April 1980 juga di Paris. Kehidupannya yang dirasa sangat tidak menyenangkan, membuat ia terpukul, bagaimana tidak, saat di usia dua tahun, ia ditinggal oleh seorang ayah, dan kemudian genapa usianya yang ke dua belas tahun, ibunya menikah lagi. karena hal itulah ia sampai pada titik kesimpulan yang kemudian nantinya tidak percaya sama Tuhan.
Sartre ketika kecil biasanya dipanggil dengan nama paulou, ia adalah seorang anak yang sering di bully oleh teman-teman sebayanya, karena dianggap memiliki fisik yang lemah, pendek dan sangat sangat sensitive, meski begitu, Sartre dikenal sebagai anak yang cerdas.
Meski masa lalunya tidak terkesan membahagiakan, siapa sangka - ialah yang selama ini dianggap sebagai tokoh pengembang aliran Eksistensialisme. Dengan segenap pemikiran yang ia miliki, ia menganggap bahwa eksistensi manusia lebih dahulu ada daripada esensi manusia sendiri, ia juga menuturkan bahwa esensi manusia itu baru ada, ketika ia sudah mati.
Karena kritiknya terhadap Descartes tentang Cogito - bahwa Cogito yang dimaksudkan Descartes hanyalah sebuah prareflektif yang digandeng akan kesadaran terhadap dunia, yang dianggap sebagai buah pemikiran yang ya… emang adanya seperti itu, tidak ada makna yang baru. Karena pandangan inilah muncul sebuah pemahaman dari Sartre tentang ontologi, bahwa ada dua jenis tipikal “Ada”.
Pertama adalah “Ada dalam dirinya” sendiri dan yang kedua adalah “Ada bagi dirinya”. Maksud ada dalam dirinya adalah ada yang begitu-gitu aja, layaknya hewan kucing, dia hanya berwujud sebagai kucing, udah gitu aja. Berbeda halnya ketika “Ada bagi dirinya” yaitu suatu konsep idealisme manusia, bahwa manusia tidak akan menjadi sesuatu, dalam artian ketiadaan yang dikhendaki. Istilah inilah yang kemudian Sartre sebut sebagai “Kebebasan”.
Dengan kebebasan itu, manusia berhak untuk menerima atau menolak segala perkara yang ada, namun yang lebih mudah dan tanpa konsekuensi banyak adalah ketika manusia memiliki kuasa untuk menolak, meskipun jalan untuk menerima sebenarnya kurang lebih sama, seperti halnya menerima untuk menyembah tuhan – karena hakikatnya manusia dihidupkan tidak lain adalah untuk beribadah kepada tuhan. Namun lebih dari itu ternyata manusia di “ada” kan di dunia juga sebagai bentuk wujud lahirnya moralitas, yaitu seperangkat properti ilahi yang disematkan kedalam kedirian manusia dalam bentuk kesadaran. Dengan kesadaran itulah manusia bisa memproyeksikan dirinya sendiri menjadi seperti apapun, seperti ungakapan Sartre dalam (Hassan, 1992:15): Manusia bukan apa-apa selain apa yang dibuat untuk dirinya sendiri.
Menurut Sartre, manusia bisa dikatakan sadar adalah bagi mereka yang sangat menghargai kehidupan, bertanggungjawab dan selalu memikirkan masa depan. Dan itulah yang menjadi ciri khas filsafat eksistensialisme Sartre. Bahwasanya ketika manusia telah menyadari untuk kediriannya telah berada, maka ia diharuskan untuk memikirkan dirinnya sendiri dan seluruh kedirian alam semesta, karena hakikat menjadi manusia adalah pikulan bersama bagi setiap manusia yang yakin atas kediriannya. Karena manusia bukan lagi materi yang ada dalam kediriannya, namun manusia adalah subjek yang sadar atas kediriannya.
Moral Masyarakat
Manusia dengan segala ambisinya tentunya memiliki kebebasan-kebebasan untuk mencipta atau mempertegas eksistensinya sebagai manusia. Namun, karena ia tidak lahir sebagai manusia satunya-satunya, maka ia juga harus melebur dalam intersubyektifitas, yaitu bersama orang lain. Sartre menegaskan, boleh saja kita memiliki ambisi untuk melakukan suatu tindakan, namun kita juga harus memperhatikan dan mempertimbangkan dengan usaha-usaha yang juga tengah dilakukan orang lain. Kalau kita paham akan kedirian kita, kita juga harus paham atas kondisi kedirian orang lain. Oleh sebab itu, moral yang baik memang harus benar-benar dilebur dalam hubungan intersubyektifitas.
Moral baru yang dibangun oleh Sartre tersebut ternyata adalah sebuah konflik, bagaimana tidak, secara tidak langsung kehadiran orang lain adalah membuat diri kita sebagai objek, begitupun kehadiran saya terhadap orang lain. Seperti halnya konsep Aku, engkau, dan kita akan terdengar sedikit radikal dan merupakan konflik, karena (sebuah ungkapan) peran akau akan tetap menjadi subjek, dan selain aku adalah tokoh objektif, dan yang terjadi adalah sebuah keterasingan salah satu pihak, yang tentunya tidak mengenakkan. Dan hanya selama keterasingan dan penindasan berlangsung, kita membentuk sebuah barisan yang disebut Kita untuk melawan orang ketiga, dan disitulah muncul konsep subjek dan objek, meskipun terdapat istilah Kita yang Objektif, namun setelah persengkongkolan itu selesai, kesatuan itu akan hilang lagi.
Cinta dalam Eksistensialisme
Siapa sangka, seorang Sartre ternyata pernah menikah dengan seorang perempuan, namun, menikah yang dipahami Sartre berbeda dengan apa yang kita pahami selama ini. Pernikahan Sartre hanyalah sebatas bentuk bagaimana ia menjalin hubungan keluarga tanpa adanya akad atau semacam janji khusus nan sakral layaknya yang kita ketahui. Namun, ia tetap melanggengkan hubungan percintaannya dengan seorang perempuan yang bernama Simone de Beauvoir, ia hidup seatap bersama. Karena pada saat itu, pernikahan masih dianggap sebagai budaya orang-orang borjois dan sebagai kritik pada kaum kapitalis dan idealis pada saat itu.
Sartre berusaha tetap mempertahankan antar subjektifitas manusia agar dipahami atau dilakukan secara penuh, ia tidak ingin larut atau menjadi sebuah obyek yang dikendalikan oleh istrinya dengan kisah percintaannya. Oleh sebab itu, ia memutuskan untuk menjalin hubungan tanpa suatu ikatan pernikahan.
Hal tersebut tercermin pada surat yang dituliskannya untuk istrinya, Simone de Beauvoir. Bahwa ia menulis kalau cinta yang telah dikembangkan kepada simone hanyalah sebagai unsur pembentuk diri, dan meminta simone untuk memahami cara yang dilakukan Sartre. Hal tersebut menunjukkan bahwa Sartre tidak ingin terjebak ke dalam objektifitas pasangannya. Karena setiap manusia memiliki sifat individualitas, maka oleh Sartre sikap itu selamanya harus menjadi Subjek, seperti kritiknya juga terhadap marxisme dan materialism yang menganggap manusia hanyalah materi.
Menurut Sartre, cinta adalah Konflik, bagaimana bisa? Ya, karena sifat dasar dari cinta adalah pertikaian, setiap pasangan berhak atas kepemilikan kedirian terhadap pasangannya, secara tidak langsung hal inilah yang menjadikan manusia sebagai obyek oleh manusia lain. Maka, Sartre menekankan dalam suratnya, ia berusaha agar tidak memakai kata-kata yang menjadikan kedirian manusia sebagai kepemilikan atas kedirian manusia lain.
Karena biasanya cinta adalah identik dengan saling memiliki, karena hal itulah manusia menempati masing-masing pada posisi obyek. Dan seakan dunianya akan diserahkan kepada pasangannya, hal tersebutlah yang nantinya kita akan menyimpulkan sebagi bentuk keterjebakan pada dunia orang lain dan hal itulah yang disebut-sebut oleh Sartre sebagai Nausea (sesuatu yang memalukan).
SUMBER TULISAN
Muzairi, 2002, Eksistensialisme Jean Paul Sartre (Sumur Tanpa Dasar Kebebasan Manusia), Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Lorens Bagus, 1996, Kamus Filsafat, Jakarta: Gramedia
Pengajian Dr.Fahruddin Faiz dalam channel yutube ngafnt dengan judul kebebasan (freedom) eksistensialisme jean paul Sartre. Diakses pada tanggal 16 september 2020, pukul 09.15
Henry Manampiring, 2019, Filosofi Teras (Filsafat Yunani-Romawi kuno untuk mental tangguh masa kini), Jakarta: Penerbit Kompas
Jurnal Aksara, Human and Javanese Culture in the Romance of Bumi Manusia, Vol.27, No.1, Juni 2015
Jurnal Al-Ulum. Kebebasan dalam filsafat eksistensialisme Jean Paul Sartre, Vol.11 No. 2, Desember 2011
Van der, P.A Weij, 2000, Filsuf-filsuf besar tentang manusia, penerjemah K.Bertens, Yogyakarta : Kanisius
Alfathri Adlin, “Neraka adalah (account) orang lain” dan kebenaran eksistensial membaca ulang pemikiran Jean Paul Sartre di Era Media Sosial serta menelusuri kontribusinya bagi Estetika, (Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam)
Fahruddin Faiz, Cinta itu konflik, paradox dan pengobyekkan on Youtube ngafnf
Fahruddin Faiz, Nausea on channel Youtube ngafnf
(Penulis: R.ruya)
Posting Komentar untuk "HUMANISME JEAN PAUL SARTRE"