Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

KEKOLOTAN PERSEKUSI KEILMUAN


Sudah sepantasnya setiap usaha untuk dirayakan. Terlebih bagi mereka yang dikejar oleh dinginnya ruang dan waktu tuntutan. Pendidikan selalu memberikan jalan alternatif menuju kemapanan - tidak sebagai ruang pembunuh karakter setiap yang masih berusaha melakukan percobaan. Praktek kontensi yang selalu diciptakan oleh pemuka keilmuan telah menghambat pertumbuh kembang anak dalam cara memaknai dirinya sendiri. Setiap usaha yang matang baginya dengan penuh perencanaan secara mendadak mengalami paceklik kepercayaan.

Kekerasan simbolis dan dominasi struktural marak terjadi di instansi pendidikan yang tidak terlalu terkemuka namun syarat insulasi dini. Menjadikan kestabilan mental anak terganggu. Bukan karena lemahnya kepercayaan tehadap diri - melainkan jumudnya keilmuan yang dipraktekkan para pemuka dengan versinya sendiri.

Zaman serba ajaib ini, banyak tulisan dan karya anak bangsa yang menginspirasi. Tapi tidak banyak yang dimengerti. Memang tidak ayal, karena setiap perlakuan selalu dibayangi kepentingan-kepentingan. Secara deontologi, harusnya sesuatu itu baik ketika bermanfaat dan memenuhi kewajiban, sehingga layak mendapatkan perlakuan yang sopan. Namun susahnya jika moral dijadikan sebagai kambing hitam bagi putusan yang bersifat kedok teleologi - seorang yang jauh dari siklus kekuasaan perlahan akan mengalami alienasi sosial.

Bukan dan tidak bukan, praktek semacam ini menimbulkan pertentangan oleh para ahli dan calon akademisi. Si ahli menggambarkan dirinya dengan baju berlapis buku-buku karya orang terkenal dan berpengaruh. Tapi secara nalar, ia membatasi pandangannya pada penemuan-penemuan baru yang hebat dari orang-orang baru.

Sikap monggo kersa yang selalu ia ajarkan kepada murid-muridnya untuk selalu terbuka kepada sesuatu yang baru terkesan dikotomi. Seperti memiliki kelamin ganda, interseksual. Tidak jelas arahnya. Barat dianggap gudang segala-gala ilmu. Lokalitas dipercadangkan. Kepentingan instansi barangkali mempengaruhi pola pikir para pengajar untuk menjadi rigid. Atau barangkali kursinya terlalu empuk, untuk kepalanya yang keras.

Tapi apapun itu, ya memang sudah sewajarnya begitu. Tidak perlu ada yang disesali. kata "menyesal" aja tidak pernah menyesali namanya, selalu ia terima - karena memang begitulah ketetapannya. Hanya saja terkadang seorang harus terlihat kalem dan nurut agar dimudahkan jalannya. Sesekali kehilangan keinginan tidak apa-apa. Toh, memang harus begitu. Karakter orang jawa yang ngeyelan harus diredam untuk bisa berbaur rapi dengan lingkungan sekitar, apalagi bertemu yang sesama ngeyelan, jumud dan kolot. Harus sabar.

(r.ruya)

1 komentar untuk "KEKOLOTAN PERSEKUSI KEILMUAN"