WANITA JAWA TIDAK REALISTIS
"Perempuan Jawa itu tidak realistis" begitulah kata yang keluar dari seorang keturunan cina yang saya anggap guru di suatu ruang diskusi, di suatu malam.
Sosok yang dirindukan
Ada banyak hal yang mempertegas bahwa perempuan jawa adalah sosok yang kharismatik, peduli dan gemati. Mereka sedari kecil sudah dilatih dengan kerasnya kehidupan melalui praktik kemandirian dan kepekaan. Bahkan aktivitas yang biasanya dikerjakan oleh seorang laki-laki pada umumnya dapat mereka selesaikan dengan anggun dan gagah. Dari ujung dapur sampai ujung teras, perempuan jawa mampu mengatasinya dengan mudah - seperti memasak, mencuci dan menyapu. Tapi, itu dulu.Perempuan seperti itu sudah sangat jarang dijumpai. Apalagi di zaman serba glowing ini, banyak perempuan hanya bisa memperindah wajah maupun tubuh, tapi susah sekali menumbuhkan kepedulian, kepekaan bahkan kemampuan dalam mengatur keuangan. Mungkin itu adalah satu diantara beberapa alasan perempuan Jawa dianggap tidak realistis.
Belum lagi di zaman yang serba sat set ini, setiap keinginan dapat terpenuhi dengan mudah, cepat dan tidak ribet. Seperti terjadi guncangan hebat dalam pergeseran kebudayaan maupun kebiasaan masyarakat. Atau mungkin sebenarnya inilah yang menjadi titik tolak kemunduran peradaban perempuan Jawa dalam praktek kehidupan. Ia tak lagi fokus mengerjakan apa yang semestinya dikerjakan oleh perempuan jawa yang terkenal anggun dan kharismatik.
Namun juga tidak sepantasnya menyalahkan perkembangan zaman, karena hal ini adalah sesuatu yang harus dan berkelanjutan. Tapi, yang perlu disadari disini adalah bahwa setiap manusia memiliki kuasa untuk menggunakan persepsinya dalam merespon suatu fenomena, bahkan ia juga bertanggungjawab penuh terhadap usaha dari pikirannya - karena memang hanya itu yang bisa dilakukan oleh manusia. Ia tidak kuasa dalam menentukan pikiran semesta, karena hal itu sangat jauh diluar jangkauan manusia.
Intervensi Produk Kapitalis
Dengan begitu, pembahasan mengenai perempuan kali ini harusnya sudah mampu mencapai titik terang. Dengan mengendalikan keinginan, maka fenomena luar tidak akan mudah masuk mempengaruhi pikiran sadar manusia. Namun apakah itu berhasil?Ternyata tidak, karena kemajuan industrialisme ini secara tidak langsung telah menstimulus pikiran bawah sadar manusia bahwa seakan-akan ia perlu dan sangat membutuhkan fantasi-fantasi dari produk kapitalis. Karena para kapitalis telah menetapkan standart tersendiri di pelbaga lokalitas produknya. Seperti kecantikan perempuan - bahwa perempuan itu cantik kalau berkulit putih, glowing dan berambut lurus. Padahal semua itu adalah persepsi yang semu, yang tidak dapat dijadikan patokan. Tapi sayangnya, beberapa orang-orang kita meng-iyakan standart itu, sehingga akan merasa malu jika kulitnya tidak putih, mulus dan kenyal.
Namun bagaimanapun, begitulah respon yang diberikan oleh banyak dari beberapa perempuan jawa saat ini, ia mesra dengan dogma-dogma kapitalis yang memaksanya untuk terus merias diri secara intens menggunakan produk-produk yang mengandung nikotin (candu) demi terlihat menarik.
Fakta ini sesungguhnya sangat menyakitkan bagi rentetan sejarah perjuangan yang berkembang dalam menciptakan kehidupan masyarakat yang balance. Bagaimana tidak, kehadiran dimensi afirmatif maupun oposisi sekarang tidak bekerja dengan baik. Masyarakat telah banyak tergiring wacana yang diciptakan oleh kapitalisme. Kesadaran mereka telah dikelabuhi - terpesona dengan produk-produk yang menggiurkan tanpa perlu mengetahui sebenarnya apa pentingnya buat diri mereka. Bahkan terkadang rela berhutang untuk sesuatu yang bersifat spekulatif.
One Dimentional Man
Manusia yang seperti ini oleh Herbert Marcuse disebut sebagai one dimentional man (manusia satu dimensi). Karena ia menghendaki segala hal yang hadir dalam kehidupan mereka, tanpa menyaring dan menelisik seberapa jauh hal itu memberi kemanfaatan kepada mereka.Dan yang perlu disadari disini adalah bagaimana kesadaran kita dikontrol oleh sistem kapitalisme yang dianggap sebagai tuntutan efisiensi. Masyarakat merasa tidak sadar bahwa saat ini mereka telah dijajah oleh jutaan produk-produk yang berjalan bebas. Bahwa sebenarnya barang-barang yang selama ini mereka beli karena mengikuti trend tidak ada substansi kemanfaatan, selain memenangkan apa yang disebut nafsu sesaat. Dan perempuan-lah yang berperan aktif dalam kegiatan (amal bakti) kapitalis ini.
Itulah sebabnya, bahwa tidak salah jika ada orang chinese menganggap bahwa perempuan Jawa sangat tidak realistis - ya memang karena ia belanja bukan karena kebutuhan, melainkan keinginan yang memberontak. Mikirrr
Dengan begitu, jelaslah bagi seorang laki-laki untuk mempertahankan kelakiannya.Karena suatu hal yang wajar ketika perempuan menyukai dunia blonjo memblonjo. Karena memang begitu karakter yang dipatenkan. Tapi apabila jika ada seorang laki-laki yang menghamburkan uang untuk sesuatu yang tidak memiliki kemanfaatan, rasanya malu seseorang itu tersemat tanda kelakian daripadanya.
(R.ruya)
Posting Komentar untuk "WANITA JAWA TIDAK REALISTIS"