Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

MENJADI APAPUN, MANUSIA TETAPLAH RINGKIH


Hidup di desa adalah konsekuensi logis masyarakat yang menikmati sederhananya kehidupan. Saking sederhananya, banyak orang-orang mempergunakan kata desa menjadi Ndeso sebagai sebuah ekspresi masyarakat dalam menilai suatu hal yang tergolong polos, kuno dan katrok, umumnya sebutan ini muncul di daerah perkotaan, namun sekarang ini bahkan orang yang notabene hidup dan tinggal di desa pun tidak ketinggalan menggunakannya. Itulah salah satu ragam ekspresi masyarakat. 

Berbicara tentang desa, sangat menarik tentunya ketika kita mampu mengeksplorasi setiap lini kehidupan di dalamnya. Tradisi gotong royong atau sambatan adalah salah satu perwujudannya. Orang di desa ketika ada saudara atau tetangga yang sedang membangun rumah, umunya saling sengkuyung membantu, biasanya terdapat 1-2 orang sebagai tukang yang menjadi leader dan sisanya adalah para kerabat atau tetangga. Menariknya, para kerabat tetangga itu tidak menuntut upah materil berupa uang, hanya dengan sogatan (istilah Jawa dari jamuan) es sirup dan gorengan tenaga mereka sudah dapat diandalkan, pun dalam pengerjaannya dilakukan dengan kekhasan masyarakat desa, yaitu Guyonan nan Gayeng. 

Hal menarik yang ada di desa selanjutnya adalah penyebutan Kyai. Masyarakat desa yang memiliki kemampuan atau keilmuan dalam bidang agama (biasanya lulusan pesantren) dijadikan tokoh agama dalam masyarakat, mereka akan menjadi pelopor tersampaikannya dakwah-dakwah kebaikan yang umumnya perkataan mereka akan diikuti. Pun juga tidak ketinggalan, ada istilah Kyai langgar, bagi mereka yang memiliki langgar (Mushola). Sehingga tidak terlalu pintar pun ketika memiliki langgar ia juga akan disebut sebagai Kyai. Hehe. Itu hanya sesumbar guyonan sebagian kecil masyarakat desa. 

Namun perlu kita membuka mata, justeru banyak persaingan antar Kyai di desa yang tidak sehat. Beberapa dari mereka terlibat perselisihan dengan yang lainnya, baik dengan masyarakat biasa ataupun dengan sesama Kyai, baik perihal keilmuan, kanuragan, maupun cekcok persoalan kehidupan sosial. Cara mereka berselisih pun terkadang unik. Karena lahir dan tumbuh dewasa di desa, para Kyai ini pun tidak lupa dengan tata bahasa yang digunakan, tata krama. Sekalipun terjadi cekcok persoalan kehidupan sosial misalnya (umumnya terjadi di sawah) mereka masih tetap menggunakan bahasa krama, sekalipun nadanya meninggi. Dan tidak jarang hal itu kemudian menjadi pembicaraan yang guyub di antara masyarakat desa. 

Juga perlu diketahui, kehidupan di desa sebenarnya lebih keras di bandingkan di kota, kalau di kota adalah susahnya mencari pekerjaan dan sesuap nasi. Sedangkan di desa adalah masyarakatnya mudah terpecah belah, apalagi jika sudah saling memiliki kubu, termasuk perihal Kyai yang berseteru. Pun kita tidak meragukan, keilmuan kyai-kyai desa memang tidak ada duanya. Bisa kita lihat hari ini, banyak kyai-kyai desa sederhana yang mendunia, memiliki jutaan pengikut dan keilmuan yang mapan. 

Namun pertanyaannya, dari jutaan Kyai desa yang memiliki keilmuan yang tinggi, berapa banyak yang bijak? Berapa banyak yang bisa mengatasi persoalan di masyarakat? Berapa banyak yang perkataannya diikuti masyarakat? 

Ternyata perbandingannya sangat jauh teman-teman. Bahkan umumnya saat ini, Kyai yang tidak kaya secara materil akan mudah dilupakan masyarakat dan suaranya tidak lagi lantang terdengar. Lantas jika sudah pada kehidupan yang seperti ini, siapa yang akan disalahkan? 

Padahal sebelum tahun 2000-an karisma Kyai masih diperhitungkan di masyarakat. Hanya semenjak modernisasi merambah ke kehidupan masyarakat desa, banyak terlihat disparitas masyarakat yang kaya dan yang miskin, perbedaannya pun jauh mencolok. Kyai yang konsen dalam mengajarkan ilmu agama, dan tidak hubbud dunia secara berlebihan memilih hidup untuk tetap sederhana. Pada akhirnya kesadaran masyarakat perlahan memudar. Ngerinya adalah ketika pikiran mereka dijajah oleh materialisme, menganggap uang adalah segalanya, dan dengan uang mereka dapat berkuasa yang berujung pada pudarnya kepatuhan kepada seorang pendakwah agama. 

Sebab itulah, fenomena Kyai sederhana desa yang tidak terlalu diperhatikan dakwah dan perkataannya, dan lebih memilih sosok yang mampu dalam persoalan pembiayaan kepentingannya. Namun juga harus adil, tidak semua masyarakat desa yang telah terjerumus pada sikap materialisme, tapi memang mereka yang masih istiqomah mengaji kepada kyainya terbilang sedikit. 

Di tengah krisisnya kepercayaan sebagian masyarakat terhadap Kyai. Kyai sebagai pemuka agama di desa harus sangat berhati-hati dalam berucap dan bertindak. Jangan sampai terjadi perselisihan antar Kyai, jangan sampai Kyai mengumbar keburukan seseorang di hadapan umum. Jika menganut teori kebenaran kuno orang Jawa, adalah hendaknya kebenaran jangan sampai diperlihatkan di muka umum, kita jaga baik-baik dan simpan dalam hati saja, cukup kebaikan yang kita sebarkan ke bumi.

Sekalipun dalam ajaran agama maupun kehidupan, kita sering menjumpai istilah sampaikanlah kebaikan walaupun itu menyakitkan. Lantas apa yang kita lakukan sebagai masyarakat awam, mana yang paling arif? Coba kita pahami kembali pada diri kita sendiri, apa sejatinya kita diberi kehidupan, diberi tanggung jawab untuk beribadah - maka dalam kesadaran terdalam pasti ada buah jawaban yang bisa kita petik dan kita berikan kepada dunia. Tetaplah berbuat arif, berlaku adil dan bertanggungjawab apa yang kita miliki. Karena dengan itulah, kehidupan akan senantiasa diselimuti bunga-bunga kebajikan dari masyarakat yang sadar akan dirinya sebagai jagad alit, dan alam semesta. 

Pun, kita harus sama menyadari, jabatan setinggi apapun, posisi sehebat apapun, pemikiran seluas apapun, isi kepala yang menjadi figure eksistensi manusia masih harus berlutut dan tunduk kepada entitas terkuat, tiada lain lagi, hanya Allah Tuhan seluruh jagad semesta. 

Lantas, apa yang bisa kita banggakan kawan, why? 

@Rruya



Posting Komentar untuk "MENJADI APAPUN, MANUSIA TETAPLAH RINGKIH"