Wacana Dekonstruksi dalam Mutu Pendidikan Indonesia
Kehidupan kontemporer selalu memberikan
sesuatu hal yang tak terduga. Kemudahan dan kecepatan akses internet menjadi
suatu keniscayaan. Masyarakat dewasa ini telah menciptakan dunia yang ke-2,
yaitu berbasis jejaring sosial. Perkembangan teknologi yang kian pesat juga
menuntut seluruh elemen masyarakat, lembaga, instansi dan lain sebagainya untuk
terus bergerak maju, sebagai sebuah langkah adaptif terhadap perkembangan
zaman.
Salah satu hal yang vital di era
kontemporer saat ini adalah nasib pendidikan bangsa. Data PISA (Programme for
International Student Assesment) 2018 menempatkan Indonesia berada di peringkat
74 dari 78 negara yang tergabung di OECD (organization for Economic Cooperation
and Development) dalam hal kemampuan membaca, peringkat 73 dalam Matematika,
dan peringkat 71 dalam bidang Sains. Hal tersebut jelas bukan hasil yang baik
bagi negara sebesar Indonesia, tentu pembenahan pendidikan harus dipikirkan
dengan matang dan tidak grusa grusu.
Belum lagi kemudahan akses internet dan
dampak negatifnya yang mampu menyeret anak muda ke dalam pusaran degradasi
moralitas. Krisis sosial dan identitas juga menjangkit ketahanan bangsa dan
negara. Perokonomian yang rendah juga banyak menggugurkan harapan anak bangsa dan
orang tua dalam mendapatkan pendidikan yang layak. Sehingga langkah konkrit
harus segera dipikirkan, konsep pendidikan ditata kembali sesuai kebutuhan
zaman, baik dalam hal kurikulum maupun kualitas pengajar.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem
Makarim belakangan ini telah meluncurkan sebuah
Program merdeka belajar yang dirancangnya sebagai sebuah pendekatan
pendidikan yang mampu memberi ruang pendidikan agar lebih dekat dengan para
siswa. Merdeka belajar pada dasarnya merupakan suatu metode pendidikan belajar
berbasis minat dan bakat. Dalam hal ini setiap siswa berhak menentukan
pelajaran yang diminatinya serta untuk mengoptimalkan bakat yang dimiliki.
Sehingga bagaimanapun dalam upaya proses
peningkatan mutu pendidikan agar jauh lebih baik, setiap lembaga pendidikan
harus bertransformasi mengikuti kebutuhan zaman. Sehingga operasional merdeka
belajar harus benar-benar sesuai dengan apa yang diharapkan siswa dan mampu
memberikan signifikansi perubahan wajah pendidikan. Meski tidak bisa
dipungkiri, setiap perubahan yang besar selalu berdarah dan melalui jalan terjal
konsistensi. Dalam hal ini, kurikulum pendidikan harus selalu berbenah, namun
tidak dengan menghilangkan tradisi semangat lama.
Strategi Sengkuyung dan Tongkat Nabi Musa
Sebuah upaya dekonstruksi bisa menjadi
salah satu jalan yang ditempuh agar pendidikan tetap hidup bertumbuh dan tidak
terjebak pada pergantian-pergantian kurikulum yang hanya sebatas tambal sulam
dan tidak melalui tahap analisis yang koheren dan radikal. Dekonstruksi
pendidikan adalah suatu wacana yang akan membangun pendidikan dari pelbagai
kemungkinan, sudut pandang dan pendekatan.
Pendekatan pendidikan dekonstruksif
bersifat pentahelix, yaitu merangkul seluruh elemen untuk saling berkolaborasi,
sehingga pendidikan memungkinkan menjangkau seluruh anak bangsa dengan nalar
berwawasan progresif. Dalam hal ini pemerintahan harus benar-benar
mengoptimalkan suatu gagasan utuh merdeka belajar bagi siapa pun, termasuk
anak-anak di pelosok negeri dengan cara pemerataan ekonomi. Sehingga disparitas
mutu pendidikan tidak begitu mencolok dan wacana merdeka belajar tidak hanya
sebatas slogan manipulatif – wacana mitos – yang menggerogoti kesadaran otonom
masyarakat.
Fakta lapangan mengenai tantangan
pendidikan sedikit banyaknya telah diketahui, sehingga pemerintah dan seluruh
elemen masyarakat harus secara bersama-sama sengkuyung dalam mewujudkan
pendidikan yang berkepribadian, bermoral, progresif dan inovatif.
Pemerintahan dengan kuasanya mampu
merumuskan strategi berbasis "tongkat nabi Musa" dalam menentukan
nasib pendidikan, dengan cara mengaktualisasikan konsep pendidikan yang
memudahkan bagi siapa saja untuk mengaksesnya serta penguatan di sektor-sektor
lain terutamanya di bidang ekonomi yang menjadi basis menjamurnya pengangguran,
ketidakmampuan membayar biaya pendidikan dan disparitas mutu pendidikan – salah
satu caranya adalah mengevaluasi mutu atau kurikulum pendidikan.
Kembali lagi; Keluarga adalah Sekolah Pertama
Para orang tua juga harus senantiasa
mengawasi dan memperhatikan anaknya. Bagaimanapun ruang keluarga adalah
pendidikan pertama bagi seorang anak. Keluarga yang sehat akan mampu
menciptakan karakter anak yang sehat pula. Banyak anak yang melakukan tindakan
anarkis di luar sana karena lunturnya ligature ruang keluarga dan terciptanya
sekat di antara anak dan orang tua.
Pendidikan keagamaan juga harus senantiasa
ditanamkan sedini mungkin, karena hal tersebut menjadi basis bertumbuhnya
keyakinan seorang anak yang nantinya akan diarahkan dalam perilaku sosial
bermasyarakat, sehingga tindakan yang tidak sesuai dengan ajaran agama dapat
terisolasi dengan baik.
Sadar atau tidak sadar, mutu pendidikan
juga sangat ditentukan oleh kompetensi dan profesionalitas seorang guru.
Sehingga guru yang baik adalah mereka yang mampu menghidupkan ruang-ruang
pendidikan, baik di dalam dan di luar kelas. Dalam artian, guru juga harus
senantiasa mengembangkan potensinya, menyukai tantangan, kreatif dan inovatif.
Salah satu caranya adalah dengan melakukan pengembangan literasi, bisa berupa
submit jurnal ilmiah, melakukan riset, dan kegiatan bersifat akademis lainnya
dalam hal peningkatan mutu pendidikan.
Di lain sisi pengajar juga harus adaptif,
merekatkan hubungan emotional berperasaan dengan siswa, sehingga transfer
keilmuan akan jauh lebih optimal. Seperti yang dikatakan oleh Herbert Spencer
seorang filosof naturalis positivistik, bahwa pendidikan adalah suatu proses
mendalami cara berpikir diri sendiri dan memahami psikologis peserta didik.
Dengan begitu, tujuan pendidikan yang
sebenarnya adalah menghayati proses yang sedang berjalan, memahami segala
bentuk perbedaan, dan konsistensi yang dirawat akan membawa mutu pendidikan
jauh lebih baik dan berkemajuan.
@rruya

Posting Komentar untuk "Wacana Dekonstruksi dalam Mutu Pendidikan Indonesia"