Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Gus Dur dan Humanis-Pluralisme

Abad 20 merupakan zaman yang pelik terkait persoalan HAM, lingkungan hidup, gender dan demokrasi. Pengintimidasian, pengucilan, tindakan rasis, perbedaan perlakuan di mata hukum, rusuh antar umat beragama bahkan sampai persoalan ekologi yang cenderung diabaikan telah memenuhi abad ini. Fenomena ini telah menjadi identitas bahwa masyarakat pada zaman itu sangat mudah diombang-ambingkan, apalagi melesatnya teknologi menambah masif-nya gerakan yang individualis dan mementingkan kelompoknya masing-masing. Budaya seperti ini telah mengeringkan marwah manusia sebagai makhluk yang bernalar dan berbudaya.

Untuk menjawab tesis tersembut, nampaknya juga ada tokoh-tokoh yang masih peduli  persoalan HAM, lingkungan maupun agama. Mereka menyuarakan ide-ide yang progresif demi terbentuknya masyarakat yang humanis dilain sisi persoalan lingkungan juga menjadi humanis.

Sosok Gus Dur

Abdurrahman Wahid misalnya, atau yang paling sering disebut Gus Dur, merupakan salah satu reformis pada persoalan cara pandang warga negara yang mencoba memunculkan sikap cinta negara dan menerima perbedaan baik kebiasaan, budaya maupun ritual keagamaan bagi setiap warga negara. Hal tersebut tercermin dari apa yang telah diperjuangkan oleh Gus Dur selama hidupnya. Sebagai seorang santri tulen yang juga pernah menempuh pendidikan perguruan tinggi di irak, sekaligus pernah menjadi kepala negara Indonesia – sosok Gus Dur sangat mengutamakan kebersamaan antara kelompok warga negaramya. Bahkan ketika ia dilengserkan dari kursi kepresidenan, beliau mengatakan bahwa tidak ada kekuasaan atau jabatan yang ada di dunia ini yang perlu diperjuangkan mati-matian. Hal tersebut memperlihatkan bahwa dunia adalah rusak. Jadi, hidup damai dan penuh toleran adalah jalan terbaik bagi utuhnya sebuah bangsa, apalagi indonesia yang diisi ribuan budaya dan suku yang berbeda.

Misalnya pada persoalan pribumisasi, Gus Dur hendak mengawinkan ajaran islam dengan budaya setempat, atau kearifan lokal masyarakat indonesia. Hal tersebut dikehendakinya karena indonesia adalah bangsa yang besar, bangsa yang kaya akan budayanya, jangan sampai ciri atau ke-khasan indonesia punah, bagaimanapun indonesia dulunya berdiri adalah karena semangat kebersamaan warganya, baik mereka yang kristen, nasrani, islam dan kepercayaan-kepercayaan lainnya.

Selain pribumisasi, nampaknya Gus Dur juga sangat bersemangat dalam menyuburkan paham pluralis. Hal tersebut beriringan dengan merebaknya paham-paham yang menyudutkan kelompok lain, paham-paham yang tidak menerima perbedaan, bahkan yang lebih ekstrim lagi juga ada paham yang mengkafir-kafirkan kelompok yang berbeda paham dengannya, bahkan bersiap untuk memeranginya.

Di hadapkan Realitas

Melihat fenomena tersebut, nampaknya kondisi Indonesia sangat tragis, di persimpangan jalan antara paham ekstrim kanan dan kiri. Oleh karena itu, kesiapan dan kebersamaan warga negara adalah kuncinya – semua haruslah mendapatkan perlakuan yang sama, tidak ada tindakan rasis antar sesama umat manusia. Agama harus dipraktikkan sesuai konteksnya, tidak boleh mengekang dan juga tidak boleh kendor. Oleh sebab itulah, pribumisasi islam di awal sangat dibutuhkan dalam perkembangan islam kedepannya di bumi nusantara. Praktik keagamaan yang kaku dan rigid hanya akan membawa perpecahan umat dan selebihnya akan menjadi boomerang sendiri kepada umat islam (Syamsul, 2020: 27) – seakan islam adalah agama yang memaksa dan suka permusuhan – padahal tidak.

Sosok Gus Dur lah yang memberi semangat demokrasi dan nasional kepada rakyat indonesia, bahkan karena adanya sekelompok keturunan china yang merasa terasingkan di bumi nusantara dan merasa tidak dihargai, yang kemudian nanti sampailah kepada perpres yang mengatur bahwa diresmikannya agama kong hu chu di Indonesia.

Sebagai kiai juga sebagai akademisi yang kritis. Gus Dur disukai rakyatnya juga sekaligus dibenci. Beliau disukai rakyatnya karena sangat merakyat dan juga suka guyonan ala santri, dan juga dibenci karena pemikirannya sangat nyeleneh dan membawa perubahan baru yang memang kondisi masyarakat indonesia saat itu barangkali belum siap untuk menerima perubahan yang besar.

Pemikiran Gus Dur yang telah dipengaruhi oleh paham tiga sekaligus –  pesantren yang penuh etika dan teladan yang bijak, dunia timur tengah yang terbuka dan keras dan dunia barat yang rasional-sekuler. Ketiganya tidak ada yang mampu menguasai Gus Dur secara proyektif. Ketiganya dibawa Gus Dur untuk membangun wacana-wacana yang kritis, beretika, dan tentunya progresif. Bisa jadi itulah mengapa Gus Dur dianggap sebagai sosok yang nyeleneh dan kontroversial (Al-Zastrouw, 1999: 33).

Pemikirannya yang progresif, mengantarkannya dijuluki sebagai tokoh new-modernis. Beliau juga bisa dijajarkan dengan tokoh-tokoh lain seperti cak nur atau nurcholis majid. Menggunakan konsep pluralisme di Indonesia, nampaknya tidak dapat langsung berjalan begitu mulus banyak tantangan dan cobaan yang bisa datang sewaktu-waktu.

Sosok Multitalenta

Tidak bisa memberikan Gus Dur dengan satu pengakuan disiplin keilmuan saja secara ilmiah. Karena Gus Dur adalah gambaran manusia yang multitalenta. Bagaimana tidak, lebih 500 tulisan yang ditulis Gus Dur baik dalam buku, artikel, majalah, ontologi buku dan sebagainya telah mengisi ruang-ruang yang mapan dan hampir semua objek kajian telah dibahas, seperti agama, sosial, kebudayaan, politikm bahkan ekonomi. Karena keilmuan yang kompeherensif itulah, tidak bisa menyebut Gus Dur dalam saatu keilmuan saja, karena semuanya saling berinteraksi antara wacana satu dengan lainnya. Namun juga tidak mengingkari, meskipun tema atau materi yang dibawa oleh Gus Dur sangat komplek – nyatanya dalam pembacaannya masih menyisakan ruang pertanyaan-pertanyaan, karena memang diakui bahwa tulisan Gus Dur cenderung singkat yang sebagian adalah berupa reflektif kehidupan yang tengah booming pada saat itu  – namun demikian, tidaklah salah ketika tulisan tersebut telah memposisikan sebagai tulisan yang unik, cerdas dan tajam.

Bahkan, Ahmad wahib dalam catatannya berkesimpulan bahwa Gus Dur bukanlah seorang yang ahli di bidang keagamaan, sosial, budaya, ekonomi maupun politikus – namun dia adalah semua realitas itu (Efendi, 1995: 46). hal tersebut telah menunjukkan semangat Gus Dur dalam memperjuangkan perjalanan panjang penuh terpaan demokrasi Indonesia.

Namun yang sangat berbeda pada diri Gus Dur adalah, meskipun ia expert dalam bidang apapun, nampaknya yang paling dikenal oleh masyarakat saat ini adalah candaan atau guyonane Gus Dur. Hal tersebut merupakan icon dari keberadaan Gus Dur – guyonan ala santri menambah ciri khas bahwa Gus Dur adalah orang yang santun dan penuh dedikasi, bahkan seorang Bill Clinton yang merupakan presiden amerika saat itu juga pernah digapleki olehnya. Hal tersebut tentunya membuka ruang-ruang lain dalam pemaknaannya, misalnya anggapan guyonan seorang santri itu sangat khas. Hal tersebut akan memberikan identitas santri sebagai sosok yang kharismatik nan periang. Jadi, ketika ada santri kok spaneng, itu perlu dipertanyakan kesantriannya.

Konsep Negara Islam

Disebuah forum ilmiah, saat itu Gus Dur diundang oleh Arif Budiman seorang sosiolog mashur untuk menjadi pembicara utama dalam forum itu (Baca KH. Husein Muhammad, Gus Dur dalam obrolan Gus Mus, 2015). Saat itu gus dur memaparkan konsep sebuah negara yang pernah tercatat oleh sejarah. Kemudian sampailah Gus Dur pada kesimpulan mana konsep negara yang baik menurut Islam. Apa yang telah dijawab Gus Dur bagi audiens dirasa tidak selesai dan masih awang-awang. Karena apa yang disampaikan oleh gus dur tidak menyinggung konsep negara islam. Hal itu dikhawatirkan sejumlah rekan Gus Dur yang khawatir ketika nanti beliau dilibas dengan pertanyaan-pertanyaan. Benar saja, ada audiens yang bertanya saat itu, lalu bagaimana yang dimaksud dengan konsep negara islam itu, gus?

Bahkan seorang Mustofa Bisri atau sapaan akrabnya Gus Mus dibuat penasaran bagaimana jawaban gus dur nantinya. Karena gus dur adalah tipikal orang asyik dan tidak terlalu menganggap sesuatu hal sebagai masalah, akhirnya Gus Dur menjawab makanya itu, belum aku rumuskan. Akhirnya seisi ruangan itu dibuat tawa ngakak oleh jawaban gus dur.

Lanjut Gus Dur menjelaskan, bahwa konsep negara islam itu tidak ada, bahkan tidak pernah ada (Fatoni, NU Online, 2019). Kalaupun ada beberapa kelompok yang memaksakan akan hal itu, maka dia juga bukan islam yang sejati. Hanya saja pada realitas kehidupan, islam telah menyodorkan nilai-nilai luhur dalam membersamai manusia menjalankan kehidupannya. Islam tidak penah mengajarkan pemaksaan, oleh karena itu juga-lah islam mampu tumbuh subur di bumi nusantara, ya karena tadi, konsep pribumisasi sangatlah penting bagi tumbuh kembang islam, seperti apa yang dulu pernah dipraktikkan walisongo dan wali-wali lainnya di nusantara, inilah islam yang berkarakter dan tentunya tidak rigit.

Gus Dur juga menjelaskan, bahwasanya konsep negara islam adalah sesuatu yang tidak konseptual, karena permasalahan indonesia dari dulu sampai sekarang sangatlah kompleks, menyasar persoalan agama, sosial, ekonomi, politik dan tentunya juga budaya. Dan jawaban dari semua itu yang elegan dan sesuai dengan nilai-niai luhur islam adalah konsep negara ber-ideologikan Pancasila.

Tidak ayal, bahwa kandungan pancasila sangatlah kompleks dan penting yang menangani kasus-kasus atau persoalan yang pelik khususnya indonesia sebagai negara dengan beragam budaya, dengan tingkat perpecahan yang tinggi. Setiap butir pancasila mempresentasikan bahwa keragaman indonesia harus diberikan satu wadah untuk meningkatkan nasionalisme dan kebebasan berekspresi yang tidak bertolak belakang dengan hukum moral atau budaya masyarakat setempat. Seperti butir pertama, ketuhanan yang maha esa – disana ada penegasan, bahwa bertuhanlah sesuai dengan apa yang kamu percayai dan tidak memaksa bertuhan dengan satu tuhan di agama tertentu.

Pemikiran Gus Dur yang lebih mengedepankan kepentingan bangsa agar humanis dan toleran di tengah gencarnya arus gerakan ultra-right inilah yang menjadikan Gus Dur sebagai sosok pembebas yang melepaskan belenggu-belenggu agama yang sadis terhadap kehidupan masyarakat berbangsa, bernegara dan tentunya beragama.

Gus Dur menarasikan islam konservatif dengan sederhana dan sangat mudah untuk dipahami. Tidak seperti kelompok-kelompok ultra-right yang cenderung dikit-dikit dalil, jika tidak sesuai dengan sunnah maka dianggap bid’ah dan bid’ah dianggap sesat. Pemikiran yang seperti nampaknya tidak mau menerima cara pandang yang humanis dan sederhana. Padahal hukum itu ada yang atas dasar kebutuhan manusia dalam menjalani hidupnya, mereka sendiri yang membentuk dalam koloni sosial-budayanya. Beragama yang seperti itu sangatlah mengerikan, pandangan ingin menang sendiri akan membahayakan dirinya dan harus kita ketahui bahwa paham-paham tersebut telah menyasar ke perguruan-perguruan tinggi, dengan menamakan dirinya sebagai halaqah studi islam dan sebagainya (Syamsul, 2020: 27). Namun, disisi lain juga harus diwaspadai bahwasanya anak-anak juga target utama dalam program indoktrinasi radikalisasi (BNPT, 2015; Sarwono, 2012).


SUMBER RUJUKAN

Djohan Effendi dan Ismed Natsir (eds.). 1995. Pergolakan Pemikiran Islam Catalan Harian Ahmad Wahib, Cet. V. Jakarta: LP3ES

Cf. Al-Zastrouw Ng. 1999. Gus Dur Siapa sih Sampeyan? Tafsir Teoritik atas Tindakan dan Pernyataan Gus Dur. Jakarta: Penerbit Erlangga

Syamsul Maarif. 2020. Sekolah Harmoni Moderasi Pesantren. Wonogiri: Pilar Nusantara

 

Posting Komentar untuk "Gus Dur dan Humanis-Pluralisme"