Identitas Sosial: Ruh baru dalam musik Metal Indonesia
Musik metal merupakan sajian musik yang
berasal dari pasar budaya barat. Meski berasal dari budaya luar, nyatanya musik
ini mampu membius banyak generasi muda di Indonesia. Musik metal atau yang
lebih booming atau dikenal sebagai musik heavy metal merupakan sebuah aliran
jenis hard rock yang syarat akan makna dan sejarah budayanya sendiri. Musik
metal muncul ke permukaan sekitar tahun 1960-an akhir, kala itu diwakili oleh
band rock seperti “Black Sabbath, Deep Purple, dan Led Zeppein” yang cenderung
berakar dari blues rock dan acid rock. Dari ketiga band tersebutlah, istilah
musik yang berirama keras, kencang dan bernuansa gelap mulai di produksi.
Seperti istilah Heavy Metal yang pertama kali dicetuskan oleh Steppenwolf pada
tahun 1968 pada lagu “Born To Be Wild”.
Musik metal merupakan produk budaya yang
syarat akan resistensi. Namun berbeda dengan penelitian yang berprespektif
subkultural, metal seakan telah ter-marjinalkan atau kelompok orang-orang yang
tersisih, karena metal dianggap tidak mempresentasikan perjuangan kelas manapun.
Di Indonesia, musik metal mulai berkembang
sekitar tahun 80-an. Pada tahun-tahun itu, Musik metal marak menyebar di
kota-kota besar, seperti Jakarta, Surabaya, Jogjakarta, Bandung hingga Bali.
Pada era tersebut muncul band-band metal di Indonesia yang akan mempelopori perkembangannya hingga saat ini.
Musik metal dianggap sebagai sebuah ajang pembuktian diri. Meski begitu, stigma
masyarakat terhadap kelompok-kelompok metal cenderung diarahkan ke perilaku
yang buruk, seperti sebagai mabuk-mabukan center, perjudian, bahkan
Narkoba. Musik metal dianggap tempat berkumpulnya orang-orang frustasi yang
tidak memiliki semangat hidup dan sering dianggap sebagai pemicu anak,
khususnya remaja untuk memberontak. Pada intinya, musik metal ini dianggap
sebagai sebuah identitas sosial suatu kelompok yang tidak mengandung unsur
positif.
Namun berbeda dengan realitas saat ini,
ada semacam pertentangan antara makna dari metal itu sendiri dengan fenomena
metal yang terjadi di Indonesia. Jika mengandaikan musik metal adalah jenis
musik yang dibilang sadis tentu saja bisa, karena pembawaannya yang berat dan
liriknya cenderung bernilai perlawanan atau amarah. Nampaknya, hal tersebut
telah terbantahkan dengan kehadiran band-band metal yang ada di Indonesia,
seperti halnya Pulgatory, Ghotic, Cadas, dan Latahzan. Mereka semua merupakan
representasi metal yang bernuansa Islami.
Hal tersebut setidaknya telah mempergeser
citra metal di masyarakat. Meski berlebel islami, namun sangat mempengaruhi
identitas yang sebelumnya telah tersemat kedalam ruh musik metal, dari yang
dianggap musik orang frustasi, kini bisa berganti menjadi sarana dakwah. Dengan
demikian, maka ada kategori sosial baru dalam ruang musik di tanah air.
Sejarah
Musik Metal
Sekali mendengar istilah metal maka
yang termaktub dalam pikiran seseorang adalah sebuah gambaran Musik yang sadis,
beringas dan berat. Biasanya kita menganggap Musik adalah sebagai sebuah
karya seni yang tinggi etetikanya, namun nyatanya hal itu bertolak belakang
dengan eksisnya Musik-musik metal. Meskipun begitu, nyatanya penikmat Musik
metal hingga saat ini juga masih eksis. Suatu pemikiran yang sedikit horror
namun juga bisa dibenarkan, bahwa Musik metal telah lahir dalam Rahim
penindasan, anti-kemapanan, dan perlawanan. Umumnya, syair-syair yang tertuang
adalah berbau satanik sebagaimana yang telah direpresentasikan di kebudayaan
barat, tradisi menyembah iblis – meski tidak semua hal demikian.
Munculnya Musik metal diakhir tahun
1960-an telah memberi warna baru bagi pencinta Musik, tapi tidak sedikit juga
yang membenci karena irama yang meledak-ledak, suara tenggorokan dalam atau
istilahnya nggembor. Semua variasi nada bersatu dan membentuk suara yang
berat. Adapun alat-alat musik yang digunakan adalah seperti drum (yang dimankan
dengan pukulan keras dan cepat), kemudian gitar dan bass (yang dimainkan dengan
melodi nyaring dan bass dengan nada dalam).
Metal
Religi
Pelebelan islami terhadap bisnis Musik
masih banyak diperdebatkan. Nilai-nilai yang terkandung di dalam Al-Qur’an dan
Hadist-pun ikut dirapatkan dalam sajian Musik, tentunya sesuai dengan praktek
kesenian. Siapa sangka, musik metal yang telah mapan di barat dan di Indonesia
kini telah berubah menjadi musik metal yang sangat religius. Lirik-lirik yang
sebelumnya bernuansa setan kini telah berubah menjadi lirik-lirik dakwah
islami, salah satu band metal yang terkenal adalah Purgatory, band metal asli Indonesia.
Meski lirik sangat islami, tapi tidak mengubah sedikitpun ke-khasan musik
metal. Yaitu pembawaannya yang totalitas, keras dan sadis.
Meski begitu, purgatory awalnya juga
menyajikan lirik-lirik yang terkesan sadis seperti band-band metal kebanyakan,
dan itu hanya berlaku sebelum tahun 2002. Setelah 2003-an akhirnya purgatory
mengubah model bermusiknya, yang lebih berbau dakwah islami. Tidak heran juga,
jika purgatory disebut-sebut sebagai band metal Islami. Keputusan untuk beralih
ke nuansa religi tentunya tidak sekedar ingin dan tiba-tiba. Melainkan ini
merupakan strategi Purgatory untuk mempopulerkan grupnya.
Teori
Identitas Sosial
Identitas sosial telah banyak
didefinisikan oleh pakar atau ahli, begitupun juga definisi yang keluar-pun
bermacam-macam. Misal saja definisi dari Henri Tajfel, ia menganggap bahwa
manusia tidak akan pernah bisa terlepas sedikitpun dari kehidupan bermasyarakat
atau lingkungan sosialnya, karena ia adalah makhluk sosial. Kembali ke belakang
atau ke zaman dimana manusia masih nomaden, tidak memiliki palungguhan yang
tetap. Sejak itu sudah terjadi dimana para manusia sudah berkelompok dari
kelompok yang kecil, sehingga membentuk kelompok yang lebih besar.
Kelompok sosial disini bukan sekumpulan individu
yang berkumpul disuatu tempat tertentu secara bersama-sama, melainkan kelompok
sosial adalah suatu ruang atau wadah dimana para individu berkumpul dengan
tujuan yang sama atau ada sesuatu hal yang diyakini secara bersama-sama,yang
tentunya memiliki keterikatan yang sama. Jika hanya berkumpul bersama namun
tidak memiliki tujuan yang sama, maka itu bisa disebut kumpulan sosial. Seorang
individu bisa dikatakan termasuk kedalam identitas sosial, ketika ia telah
merelakan atau mengkategorikan dirinya kedalam satu atau beberapa kelompok
dalam kehidupan sosialnya.
Menurut Tajfel, hal-hal yang perlu
diperhatikan dalam teori Identitas Sosial, diantaranya:
-
Kategorisasi
diri, Individu sebelum terjun ke dalam
identitas sosial, maka mereka harus mengklasifikasikan atau mengkategorikan
diri mereka dengan cara tertentu dalam hubungan lingkungan sosialnya. Misalnya
seseorang yang sangat jatuh cinta pada lagu inul daratista, maka ia akan
mengkategorikan dirinya sebagai bagian dari penikmat dangdut. Dan tidak mungkin
jika ia dikategorikan pada barisan penikmat Musik metal atau rock. Menimbang
persamaan atau perbedaan tiap individu sebagai pengklasifikasian nampaknya
tidak bisa terlepas dengan yang namanya perspektif esensial dan non-esensial.
Perspektif esensial
merupakan sebuah perspektif yang rill, abadal abadi, otentik atau tetap,
karena tidak akan mungkin bisa berubah, seperti halnya, bentuk tubuh ketika
dilahirkan, orang asia tidak akan mungkin bisa menyerupai dengan bentuk tubuh
orang Australia atau Barat.
-
Perbandingan
Sosial, suatu proses menimang-nimang atau
membandingkan individu satu dengan individu lain atau kelompok tertentut dengan
kelompok yang lainnya. Yang jelas dalam proses perbandingan, maka seorang
individu akan lebih memilih (katakanlah lawan) yang seimbang atau relevan
dengan potensi yang dimiliki oleh individu tersebut. Hal tersebut tentu
bertujuan untuk mengetahui seberapa tinggi nilai dirinya dalam masyarakat
sosial.
Atau biasanya
perbandingan ini berlaku antar kelompok atau komunitas. Seperti contoh, ketika
kita melamar pekerjaan, maka kita akan menonjolkan Riwayat hidup kita yang
sebelumnya telah berkecimpung di organisasi terkenal misalkan. Hal tersebut
merupakan upaya pembuktian diri, (ini looo.. aku sebelumnya pernah menjabat
sebagai ketua OSIS).
Menyoal Identitas Sosial Pecinta Metal Prespektif Henri Tajfel
Musik metal dianggap
sebagai salah satu musik yang penggemarnya adalah kaum-kaum yang
ter-marjinalkan, karena kandungan musik metal itu sendiri telah memproyeksikan
kediriannya sebagai musik yang ngeri, penuh perlawanan dan cenderung orakan.
Musik yang seperti itu akan sangat di tentang sebagian besar masyarakat,
apalagi kaum yang cenderung agamis.
Namun, melihat
fenomena yang terjadi di Indonesia sendiri, musik metal berkembang dengan cara nyeleneh
dari kebiasaan besar musik-musik metal itu di tampilkan. Bagaimana tidak,
musik yang sudah khas dengan lirik-lirik kejam, perlawanan bahkan satanic
– kini menjadi musik yang cenderung adem dan kalem dalam pemaknaan
setiap liriknya. Bau-bau nasihat dan ajaran moral juga tersemat ke dalam musik
metal, seperti saja dalam lirik lagu band Purgatory dalam album 7:172. Di dalam
lagu itu, liriknya syarat akan pengajaran akhlak, aqidah bahkan muamalah.
Bahkan penelitian yang dilakukan oleh Syarifah Farah (UIN Syarif Hidayatullah)
menunjukkan bahwa dalam album itu, ternyata mengandung makna yang dalam – yang
didasari pada kandungan Al-Qur’an. Album lagu 7:172 merupakan simbol untuk
mengungkapkan kandungan dari surah ke-7 Al-A’raf ayat 172.
Realitas tersebut
benar-benar telah mengubah citra musik metal menjadi lebih santun. Hal ini juga
mampu menepis anggapan masyarakat terkait pemahaman bahwa musik metal adalah
musiknya anak-anak nakal. Fenomena ini juga telah menciptakan kelas baru dalam
identitas sosial – kini, tercipta semacam pencinta musik metal yang dioplos bersamaan
dengan pesan-pesan kehidupan, istilah guyonnya adalah anak metal Syar’i.
Seperti yang
dikatakan Henri Tajfel, bahwa individu akan cenderung mengkategorisasikan
dirinya ke dalam lingkungan sosial masyarakatnya. Ketika disana muncul suatu perubahan
yang menarik, maka ia akan (setidaknya) mencoba masuk pada ruang-ruang baru
yang memang masih pada tataran tingkat kesukaannya. Tapi, hal ini tidak berlaku
untuk semua orang. Bahwasanya, ketika purgatory menciptakan Album 7:172, maka
pecinta metal yang memang tidak beragama islam akan cenderung ada potensi untuk
tidak mengikutinya, dan lebih memilih mana lagu yang tidak menyematkan sebuah
kedok agama – karena yang ditampilkan purgatory disana adalah sebuah simbol
dari ayat pada surah Al-A’raf. Tapi juga tidak menutup kemungkinan semua
pecinta musik metal juga akan sama-sama mengikuti perkembangan musik metal yang
lebih religi ini, bukan karena apa yang dikandung oleh lirik-liriknya,
melainkan oleh apa secara totalitas pada musik metal tersebut, bisa karena
memang ia fanatik pada detakan drum dan gitaris yang tergabung dalam komposisi
musik yang padu.
Kesimpulan
Pada akhirnya kita tahu, bahwa tidak sedikit pula masyarakat yang juga suka
dengan musik Metal, karena dianggapnya adalah sebuah identitas kejantanan dan
keren. Meski, dilain pihak tentunya ada yang sangat membenci kehadirannya.
Namun, musik tetaplah musik, ia datang terlahir atas apa yang menjadi keresahan
lingkungan sosial masyarakatnya. Meski begitu, umum bagi masyarakat Indonesia
bahwa metal adalah simbol musik bagi anak-anak yang nakal.
Dan cara meminimalisir anggapan masyarakat yang kurang baik tersebut, maka muncul-lah band musik metal yang beraliran Syar’i atau Religius – salah satunya adalah Purgatory. Band tersebut setidaknya menjawab respon masyarakat yang menganggap bahwa lirik-lirik band-band metal terkesan sadis dan mengerikan. Purgatory hadir sebagai anti-tesis anggapan masyarakat tersebut. Meski respon masyarakat yang lambat atau bahkan acuh dengan kedatangannya band Purgatory ini, tapi setidaknya band ini telah menambah khazanah atau menghadirkan ruh baru dalam dunia musik khususnya di Indonesia. (afr)
Daftar Pustaka
Brown,
Andy R. 2003. “Heavy Metal and Subcultural Theory: A Paradigmatic Case of
Neglect?” dalam Muggleton dan Winzierl. The Post-Subcultures Reader.
Oxford: Berg.
Christie,
Lan (2003). Sound of the Beast: The complete Headbanging History of Heavy Metal. Happer Collins. Pada Jurnal Sitakara, Vol. IV No.1 Universitas
PGRI Palembang
Stangor,
Charles. 2004. Social Group in Action And Interaction. New York:
Psychology Press.
Stets
& Burke. 2000. Identity Theory and Social Identity Theory. Dalam Social
Psicology Quarterly
Giles,
Middleton. 1999. Studying Culture: a Practical Introduction. Oxford: Blackwell
Publisher
Tirto.id,
Sejarah Heavy Metal: dari Perlawanan Hingga Lirik yang Penuh Amarah,
diakses pada 06 Mei 2021 pukul 10.36
Posting Komentar untuk "Identitas Sosial: Ruh baru dalam musik Metal Indonesia"