LISAN YANG TERBATAS
Sebanyak apapun manusia berbicara, sekeras apapun mereka bersitegang dengan lainnya, dan juga se lincah apapun ibu-ibu dalam menggeluti kata membicarakan "kebaikan" orang lain sekitar - ternyata kata yang terucap tak memiliki substansi makna yang paling dalam. Apalagi di zaman serba tidak seribu ini, kata-kata telah kembung karena tak berisi sesuatu yang subtantif, melainkan kosong sehingga kata-kata menjadi masuk angin. Bayangkan betapa sedihnya kalau kata-kata kemasukan angin, dioles minyak kayu putih gak bisa, di kerokin pake koin 100 rupiah gambar wayang pun tak bisa, apalagi sampai bersendawa akibat pijat plus plus yang memikat. duuuhhhh. Kata-kata tetaplah kata, suatu makhluk hidup yang hanya menjadi sarana atau perantara dari luasnya arti kehidupan semesta yang termaktub dalam wujud akal dan hati manusia.
Tapi, sebenarnya kata-kata itu luas dalam imajiner. Namun tetapi juga, ketika sudah divisualkan atau di lisankan melalui sentuhan kedua bibir atas dan bawah, kata-kata tak lagi memiliki makna yang purnama, alias ia terbatas.
Tapi apa dayalah kita yang jarang membaca - seni berbicara menjadi satu-satunya hal yang menegaskan kalau kita ada. Dari itulah, seseorang rajin berkata-kata karena tidak perlu modal banyak, asal pede aja.
Perlu kita pahami bersama, dilain keterbatasan lisan yang kita ucap, nyatanya kita juga tak mampu mengejar kesempurnaan itu. Kita semua terlahir tidak mungkin di konsep oleh tuhan untuk menandinginya, karena kita pasti akan lenyap juga. Kenapa seorang atheis yang secara tegas tidak mempercayai adanya tuhan hidupnya selalu merasa tidak puas dan selalu ingin bebas? Yaa... karena dalam kondisi atheis itu juga ia sudah terpenjara pada dalamnya sifat gelap. Makanya ia butuh kebebasan agar mampu mencapai kebahagiaan dan penghidupan yang layak.
Bagus, semangat utk sll menginspirasi dan menulisnya ka....
BalasHapus