Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

LUMPUR ITU KOTOR, TAPI AKU SUKA BECEKNYA TUHAN


Melihat realitas yang kompleks pada kehidupan saat ini, telah membawa kita ke dalam pelbagai persoalan dan kesulitan yang runyam. Presentase kebahagiaan dan kejenuhan tidak lagi sama, hal tersebut merupakan impact dari kehidupan yang kita jalani saat ini - yang sudah mulai kehilangan nilai keasliannya sehingga membawa manusia kepada kehidupan elusif, sebuah kehidupan yang diciptakan melalui campur tangan manusia.

Sedangkan beberapa manusia tidak tahu menahu kenapa ini tetiba terjadi pergeseran makna akan alam yang terlalu hebat. Bagi mereka yang positivistik akan menganggap ini sebagai kemajuan dunia dan menjadi titik tolak konsep humansentrisme.

Namun, apakah perubahan hebat ini akan membawa manusia kepada kondisi mirakel, yang mampu mendiskreditkan entitas tertinggi dalam persoalan berkehendak?

Nampaknya, dalam kondisi ini manusia telah mendalami pesona dunia, sehingga ia larut dalam pujian ilmiah semesta yang telah mereka perjuangkan selama ini dalam menggeluti ilmu pengetahuan. Padahal bagi beberapa agama, dunia hanyalah sebagai tempat ujian setiap jiwa raga dalam pertautan hubungan dengan tuhannya.

Dan mereka yang mengartikan dunia sebagai segala-galanya adalah bentuk kekufuran nyata bagi beberapa agama. Hal itu digambarkan secara lugas bahwasannya ketika ia terikat dan bahkan sampai tidak bisa lepas dari sifat keduniaan - maka, sepantasnya ia dianggap sebagai budak semesta. Dan hal itulah yang memungkinkan hati seseorang menjadi keras karena menghalangi rahmat sang Esa.

Dengan begitu, sudah jelas dalam firman-firman tuhan di setiap agama abrahamik maupun agama bumi. Baik dan buruk telah memiliki porsi yang pas di setiap ruang diciptakan. Manusia dengan segenap akal dan hati telah mampu merespon dan mengerti suatu kecacatan atau tidaknya laku manusia di bumi, inilah yang disebut moral otonom - atau setidaknya itulah yang membuat manusia menggeluti perihal keduniaan, karena setiap manusia terkoneksi dengan yang lainnya di dalam sebuah kepentingan independen.

Oleh sebab itu, tidak perlu pasal ataupun aturan khusus dalam menetapkan tindakan ini atau itu dikatakan bermoral atau tidaknya. Seperti paradigma orang-orang barat pasca runtuhnya gereja dan munculnya tatanan kehidupan baru yang lebih terbuka, zaman renaissance - moral barat sudah terstandart dengan moral otonom, sehingga kehadiran agama dan orang-orang suci hanya dianggap sebagai penghambat berkembangnya zaman, karena ada praktek agamawan yang menawarkan dogma populis nan kaku.

Bahkan hal itu tidak saja terjadi di dunia barat. Dunia islam pun demikian, praktek keagamaan yang rigid dan jumud telah mewarnai ketidakharmonisan dalam tubuh islam, yang justeru cenderung memberikan stigma buruk terhadap Islam sebagai agama dan praktik sosial kemasyarakatan.

Namun, meski begitu rasanya tidak adil jika hanya melihat agama sebatas dari secuil tindak laku penganutnya. Tentu dimanapun, setiap pemeluk di masing-masing agama memiliki sosok yang arif meski tidak menafikan juga ada beberapa oknum yang memiliki kecenderungan berbelok dalam hukum syara yang telah ditetapkan - bahasa orang jawanya adalah mlipir.

Namun, kata mlipir yang dimaksud disini bukanlah secara tegas dan purnama sebagai tindakan menentang bahkan menolak kehadiran firman-firman tuhan. Tetapi memang karena dalam setiap perjalanan spiritual manusia, bagi beberapa dari mereka mengalami titik kejenuhan. Nah, disini ada yang merespon dengan sabar, dalam artian benar-benar menahan nafsu untuk keluar dari hukum syara' dan ada juga yang sesekali bertindak menyimpang atau nyleneh.

Jika tuhan telah menyematkan kesadaran otonom kepada manusia bahwa lumpur itu kotor, maka bagi orang yang menggunakan akalnya dengan normal akan meng-amini hal tersebut. Berbeda cerita dengan orang yang mlipir tadi, ada saja alasan yang ia ciptakan. Bahkan baginya ketika lumpur itu kotor, ia tidak melihat ain dari bentuk kotornya itu - melainkan pikiran yang substantif baginya adalah bagaimana becek dalam lumpur itu sangat menyenangkan, makanya tidak jarang praktek yang keluar dari syiariat itu lebih menyenangkan dari apa yang telah dituliskan didalamnya.

Namun, bagi saya praktek yang mlipir itu adalah wajah keagamaan layaknya seorang anak kecil, yang masih labil dan suka bermain-main. Dan memang begitulah manusia, unik sekaligus unyu-unyu. Hehe


(R.ruya)

3 komentar untuk "LUMPUR ITU KOTOR, TAPI AKU SUKA BECEKNYA TUHAN"

  1. Walah, Yen iseh mlipir durung dewasa?

    BalasHapus
  2. Entah mengapa hal hal yang terkesan tabu bahkan terlarang memang lebih menarik di mata

    BalasHapus
  3. Proses hidup dari kehidupan, lalu memilih pilihannya adalah bagaian hidup yang kritis. Hihi
    Berjalan dengan tutur berpegang pada agama yang di anut adalah pola berpikir, semua bisa berpendapat dan bersuara ttg hak hak yang dimiliki sebagai manusia di kehidupan sosial.

    BalasHapus