HANCURNYA MITOS MASYARAKAT
Jauh sebelum manusia berkembang biak dengan cepat, kehidupan di bumi telah terlebih dahulu dihuni oleh bangsa halus, jin, roh dan sebagainya. Makhluk-makhluk itu menjaga keberlangsungan bumi dengan baik. Tumbuh-tumbuhan bernafas dengan segar, begitupun makhluk hidup lain di dalamnya, benar-benar tumbuh dalam romantisme proses kehidupan.
Sayangnya, keseimbangan alam itu akan goyah semenjak manusia mulai diciptakan secara alami dan berangsur-angsur dalam proses biologis. Pertumbuhan manusia makin cepat-kilat, hal tersebut mendorong ketergantungan akan hidupnya terhadap lingkungan sekitar sebagai sarana mempertahankan eksistensi. Mengambil istilah Nietzsche, alih-alih menjadi makhluk ubermensch nyatanya manusia tidak akan pernah sanggup menanggung kehidupannya sendiri, ia akan selalu bergantung pada alam.
Sebagai tamu yang arif dan primitif, alam telah mengajarkan manusia cara berdialog. Ritual-ritual pemujaan ditampilkan manusia sebagai simbol pengakuan bahwa eksisnya kebenaran entitas tertinggi. Secara sadar, manusia primitif (kuno) telah mampu mengenali gejala-gejala alam dan pesan yang ingin disampaikan. Seperti kepercayaan tentang adanya tuyul mencuri uang, yang mengisyaratkan bahwa seseorang harus tahu batas dan menyisihkan hartanya untuk bersedekah, adanya kuntilanak menculik anak kecil menyimbolkan bahwa pertumbuhan jumlah penduduk harus dikontrol agar tidak memadati bumi, dan kasus wewe gombel menculik orang agar mereka mendapat pelajaran. Semua pengetahuan kearifan lokal itu berdasar, hanya saja - kemunculan modernisme telah mengikis nilai-nilai adiluhung yang syarat akan pendidikan moral tersebut.
Lahirnya Modernitas
Dalam teori modernisasi klasik, James S Coleman menilai bahwa modernisasi tidak jauh dari kepentingan politik, adanya diferensiasi sosial mencirikan salah satu bertumbuhnya politik modern. Manusia di satu sisi telah secara sadar mampu memahami bahwa kehidupan harus disandarkan pada prinsip kesamaan dan kapasitas politik harus diinisiasikan untuk pembangunan masyarakat modern yang berkeadilan. Namun, di sisi lain politik selalu menjadi jalan terjal bagi kebanyakan masyarakat dalam mendapatkan kesetaraan dan keadilan.
Sistem perpolitikan modern acap kali menggunakan moral teleologi sebagai pondasi dalam menentukan kebijakan dan dalih bersyarat keutamaan rakyat. Kebijakan selalu digambarkan sebagai pemenuhan kemaslahatan rakyat. Lalu rakyat mana yang rela tanah air-nya di persekusi? Lingkungan adatnya diganggu?Tidak ada alasan mendasar sebuah koorporasi pemerintah dalam membumikan kebijakan untuk menenggelamkan masyarakat - bermain proyek dengan rakyat. Padahal tanpa kebijakan pun, sebenarnya masyarakat mampu memenuhi kebutuhannya dengan baik, jika dan hanya jika modernisasi tidak pernah sampai di suatu lingkungan masyarakat. Lahirnya modernitas menyisihkan luka mendalam bagi kestabilan lingkungan dan kearifan lokal - tapi manusia tidak menyadari.
Kecerdasan modernisasi sangat mengganggu kesadaran masyarakat. Secara berangsur, modernisme telah mengikis budaya masyarakat tradisional. Pemukiman pedesaan dengan sekejab dapat dirumah menjadi kawasan perkotaan. Hilangnya akses tradisional masyarakat, menjadikan kebudayaan semakin rentan penyakit serta kaburnya nilai kearifan lokal. Semua itu adalah hasil buah dari pekerjaan modern, terlepas dari sumbangsih modernisme.
Lunturnya Akses Tradisional
Dalam masyarakat Jawa pra-modernisme misalnya, kegiatan padhang mbulanan masih kerap kali dilakukan di depan halaman rumah atau di tanah lapang secara bersama-sama dengan sangat antusias. Tetangga saling menyapa. Kunang-kunang bertebaran mengambang di udara, suara jangkrik di selingi teriakan orong-orong masih menyertai indahnya kehidupan malam hari di desa.
Mitos tentang larangan menyapu di malam hari, buka payung di dalam rumah, anak kecil keluar waktu surup dan larangan duduk di atas bantal masih diperhatikan betul oleh orang jawa, karena diyakini memiliki nilai moral. Bahkan eksistensi mahkluk halus, jin, setan khas jawa masih memiliki taji. Mereka semua diberikan tempat leluasa dalam mempertahankan hidupnya. Suara kuntilanak masih banyak terdengar nyaring di pelbagai tempat yang dianggap angker. Tuyul-tuyul masih berkeliaran dan suara rintihan wanita menangis di tengah malam masih terdengar sangat jelas - tentu dengan pesan yang hendak dibawanya.
Namun kehidupan modern saat ini, manusia telah bodoh oleh TV dan youtube. Mereka sangat rasionalistis. Tidak mempercayai adanya mitos maupun hal yang dianggap tahayul. Mereka tidak percaya terhadap setan khas jawa, semua dianggap bualan belaka. Justeru mereka lebih tertarik setan khas ciptaan modernisme, yaitu orang yang tampil haha hihi layaknya kuntilanak terbahak-bahak maupun merintih mendesis-mendesah di program reality show ala TV maupun youtube yang sangat tidak berguna itu.
Barangkali setan sudah bertransformasi mengikuti perkembangan zaman, di mana manusia telah kehilangan hidupnya, tidak lagi peduli dengan alam, orientasinya adalah kapitalisasi sehingga banyak pertambangan dibuka yang hasilnya entah lari kemana - yang menjadikan setan kehilangan akses tempat tinggalnya, begitupun terhadap eksistensi manusia yang berkenaan dengan praktek kebudayaan setempat. Padahal keseimbangan alam ini akan terjaga ketika manusia mampu memahami dirinya dan sekitarnya. Pikiran modernisme selalu mengejar keuntungan, tidak nilai dari sebuah kearifan lokal yang harus tetap dijaga. Begitulah modernisme.Manusia harus pandai membatasi diri, agar tidak mudah dikelabuhi oleh komodifikasi narasi yang dibangun oleh sistem kapitalisme - yang berdampak pada hilangnya akses kearifan lokal masyarakat.
Posting Komentar untuk "HANCURNYA MITOS MASYARAKAT"