Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

CINTA SYARAT KETIDAKSETIAAN


Masa remaja menjadi peralihan paling radikal dalam menilai pertumbuhan fisik maupun psikis seseorang. Di masa ini pula, semua anak bisa dengan sangat mudah mengidap penyakit kerentanan jati diri - mudah terpengaruh dengan sesuatu yang bernilai sensasional. Ketertarikan lawan jenis menegaskan hubungan antar personal terjadi dalam jalan yang normal sebagai manusia yang sangat lekat dengan erotisme pada tingkatan lebih lanjut nantinya.

Faktor lingkungan pergaulan menjadi basis keterkaitan pembentuk karakter seseorang dengan dunia yang dijalaninya, sebuah kondisi untung rugi yang terkadang meresahkan keseimbangan sosial masyarakat. Seseorang pada tahap ini belum secara maksimal menggunakan nalar kritis dalam mengambil sikap dan cenderung lebih grudak-gruduk mengikuti trend sosial. Hal tersebut dibenarkan dengan fenomena anak muda rentan umur 12-15 tahun yang belum memiliki idealisme kuat dalam memposisikan dirinya di masyarakat. Beberapa yang lain juga terjebak ke dalam pergaulan terlampau bebas - mengesampingkan etika-etika sosial maupun agama.

Tidak remaja saja - dewasa bahkan orang tua juga ternyata terkadang terjebak kepada sikap yang tidak arif dan cenderung bersekongkol dengan lain untuk pemenuhan kepentingan maupun perilaku sensualitas. Karena pada dasarnya setiap orang memiliki dorongan eros yang sangat kuat di luar kelembutan yang terjadi ketika cinta melebur diantara keduanya.

Dengan begitu, cinta akan syarat dengan ketidaksetiaan. Atas nama cinta kita terjebak pada hubungan cinta segitiga. Di satu sisi kita menginginkan kelembutan dari seorang pasangan, di sisi lain kita membutuhkan kenikmatan erangan dalam persetubuhan. Antara cinta dan eros ternyata telah dimaknai secara terpisah dalam suatu hubungan percintaan. Psikoanalisis menilai bahwa cinta adalah syarat dengan kelembutan, kesetiaan dan tanggungjawab. Sedangkan eros adalah kegairahan dari bersatunya dua alam besar yang syarat akan kelekatan.

Bagaimana sesuatu itu bisa dirumuskan dan terjadi secara berulang-ulang pada suatu hubungan manusia? Kita bisa menduga bahwa seketerbatasan apapun seseorang, ia secara sadar menginginkan sosok yang multi-talent, sosok pendamping yang mampu mengolaborasikan cara berpengaruhnya antara bangsa yunani dan romawi dalam peradaban sejarah dunia. Manusia memanglah tamak dan rakus. Gemar membandingkan satu dengan lainnya yang berujung pada ketidakpuasan terhadap apa yang dimilikinya saat ini. Apa yang bisa dipikirkan bisa untuk direncanakan - meski terkadang terjadi ketidakseimbangan antara yang menawar dan yang ditawar, kontras antar nilai dan eksistensi.

Tapi sampai kapan kita akan terjebak pada pusaran nafsu yang tidak bijak ini. Padahal kita sebenarnya tahu, bahwa setiap organ memiliki fungsinya masing-masing, setiap alat memiliki kegunaan tersendiri, begitupun juga manusia memiliki keunikan tersendiri. Jangan kita menggunakan kacamata powerenjes untuk melihat pasangan kita yang lembut, ramah dan tidak suka kegagahan.

Karenanya, cinta harus dipahami dan dibangun bersama. Bukan dengan nafsu, tapi dengan kedewasaan. Salah satunya adalah dengan memahami diri sendiri, melihat batas-batas keutamaan jati dari, memposisikan agama sebagai landasan moral - yang baru kemudian kita bisa memposisikan hubungan kita sebagai suatu ikatan privat yang saling terkoneksi. Tidak hanya secara horizontal, melainkan ke atas menembus langit menuju sang fakta yang selalu menerima kesalahan berulang-ulang. Karena dengan yang itulah kita akan tetap hidup, sekalipun kita merasa orang yang paling tersakiti di dunia.

@r.ruya

1 komentar untuk "CINTA SYARAT KETIDAKSETIAAN"