MEMBANGKITKAN SPIRITUALISME KRITIS
Reformasi sampai demokrasi hari ini tidak juga segera meredamkan sinisme antar golongan masyarakat, antara kaum monoteisme Islam kanan dengan para pemeluk diluar kepercayaannya. Kehadiran modernis-kapitalis juga menambah babak belur sengketa di antara keduanya. Pengkultusan kebenaran agama monoteisme telah menciptakan dua entitas yang seakan berlawanan, antara benar dan salah. Banyak sekali kasus intoleran yang tumbuh subur di Indonesia. Bahkan sampai hari ini, fakta radikalisme terus menjalar dan menggerogoti nilai-nilai persamaan dan kedamaian di antara warga negara Indonesia.
Di Indonesia, gerakan ultra-right (sejenis agamawan mabuk arab) ini memandang kebenaran hanya ada satu, ia tidak terbagi. Dan mereka juga-lah yang selalu menjatuhkan kebenaran ke bumi, sehingga menjelmalah kebenaran itu menjadi kekuasaan, suatu hukum yang mengikat. Maka, hendaklah ketika kita mendapati kebenaran simpanlah di antara jantung dan hati, jangan sampai kebenaran itu jatuh pada hari ini - tugas kita adalah memikul kebenaran agar kebaikan dan kedamaian tumbuh subur di muka bumi.
Orang-orang modern zaman kita sekarang ini telah banyak bergulat kepada kehidupan yang canggih, dan beberapa juga bersikap pragmatis. Namun anehnya masih banyak kita jumpai orang yang katanya modernis tapi ternyata dogmatis, ia mengunyah ilmu agama secara mentah. Atau barangkali sudah matang, namun ia tak sempat mencicipinya - hanya melihatnya. Pemahaman gerakan ultra-right terhadap agama monoteisme cenderung kaku, dan menafikan segala kebenaran-kebenaran yang ada. Termasuk kebenaran agama kepercayaan - di luar agama monoteisme.
Perlu kita ingat pula, bahwa manusia terbentuk dari beberapa lapisan kesadaran. Lapisan terluar adalah lapisan rasio, yang hanya bisa kita tangkap menggunakan akal - kemampuan akal mempengaruhi kebenaran yang dapat disimpulkan. Sedangkan pada lapisan terdalam manusia adalah kesadaran purba, kesadaran yang memungkinkan manusia tidak terjebak kepada persoalan benar dan salah, kesadaran yang memungkinkan manusia memikirkan kembali nilai adiluhung yang telah lingkungan berikan kepadanya, kesadaran yang memposisikan sesuatu secara sopan, sebuah nilai kebijaksanaan yang memposisikan keseimbangan alam sebagai pusatnya. Maka kita tidak heran di agama-agama timur maupun agama kepercayaan masih sangat menghormati lingkungan sekitar dan keyakinan.
Praktik pemujaan (lebih tepatnya penghormatan) terhadap tetumbuhan oleh penganut kepercayaan tidak bisa kita artikan sebagai sebuah sikap kemusyrikan. Mereka sudah tau apa yang seharusnya untuk dihargai. Karena mereka telah merasa terbantu oleh kehadiran tumbuhan-pepohonan, maka mereka menghormatinya dan menyakralkan pohon itu. Atau barangkali dengan cara inilah seseorang tidak akan berani mempersekusi lingkungan. Karena sesuatu yang dianggap sakral ketika dirusak, maka sesorang akan segera terkena musibah atau tetanda, begitu mitos yang dibangun oleh masyarakat setempat dalam menjaga ekosistemnya.
Mereka juga memiliki pemahaman tentang konsep sang hyang widhi, begitupun kepercayaan terhadapnya. Namun agama monoteisme telah memutus pemahaman luhur itu dengan membaca entitas tertinggi yang bersifat metafor menjadi suatu pemahaman yang aritmatis, satu - yang terbatas.
Tidak heran, hari ini polarisasi di Indonesia sangat fatal. Sinisme dan kebencian antar golongan maupun kepentingan telah menguasai kesadaran masyarakat secara puripurna, sehingga moral dan kemanusiaan telah lenyap. Masyarakat kita terjebak ke dalam pusaran gerakan ultra-right yang menuhankan dengan konsep tuhan satu - yang diringkas dan dirumuskan melalui kitab suci agama abrahamik, bukan tuhan yang dihayati oleh agama-agama timur maupun kepercayaan lokal - sebuah entitas yang mendatangkan jiwa-jiwa tentram, sunya, tenang dan damai.
Kekerasan dan penganiayaan atas dasar agama tidak bisa dibenarkan. Agama harusnya mendatangkan jiwa yang damai, arif dan mendatangkan rasa keamanan. Namun, agaknya terlalu mengelulukan sebuah agama yang dianggap suci, yang justeru melegitimasi tindakan kekerasan atau setidaknya (memiliki arah kesana), karena pembacaan teks masyarakat kita tidak pernah selesai dan terjebak pada sikap arogansi yang memungkinkan berkehendak di luar kendali. Nafsunya lebih besar ketimbang kebenaran yang bisa ia pikirkan dan kebaikan yang bisa ia lakukan.
Sikap anarkis muncul menjadi sebuah sintesis dari kegagalan dalam merespon sebuah fakta. Ketika seseorang tak mampu bersikap dan berhati intelek, maka yang dikeluarkan adalah kekuatan, kekerasan dan arogansi dalam menanganinya. Oleh karena itu, seperti yang dinarasikan di awal - jangan sampai kebenaran jatuh dan terbukti hari ini, karena akan menjelma menjadi sebuah kekuasaan. Pikul saja kebenaran itu, cukuplah kebaikan yang di bumikan. Karena kebenaran yang jatuh akan menjadi hukum, dan hukum akan menjelma menjadi sebuah kekuasaan yang senantiasa menghardik orang yang tak sejalan.
Jalan keluar yang harus dihadapi bangsa ini adalah menerapkan laku kritik. Sebuah perjalanan spiritual yang senantiasa telah melewati kesadaran purba, kesadaran rasio, abad pertengahan, masa kegelapan, era renaissance, dan modernisme - dengan melakukan kritik di setiap masa yang telah menjelma membentuk kedewasaan dunia. Ada kebaikan yang wajib kita ambil sebagai manusia yang terus bergerak beriringan dengan perubahan zaman, pergeseran budaya dan perbedaan cara pandang.
Tidak ada kebenaran yang benar-benar baik jika tidak mendatangkan kebaikan dan manfaat. Sikap laku kritik ini akan mengarah kepada spiritualisme kritis, dimana seseorang tidak lagi menghardik yang berbeda seperti kasus yang sudah-sudah, sikap intoleran harus ditanggalkan. Rekonstruksi ulang kesadaran tentang tuhan pencipta alam semesta. Karena pembacaan akan tuhan sangat luas dan tidak terbatas.
Seseorang jangan sampai terkecoh dengan yang di atas, tidak selamanya sesuatu itu mulia. Karena yang di depan belum tentu benar, yang terakhir belum tentu mutakhir. Kebenaran ada dimana-mana. Begitu juga kesadaran, kesadaran rasio membawa kita kepada pengetahuan inderawi. Namun kesadaran purba-lah yang melahirkan kita. Kesadaran yang mengajarkan kepada kita kelembutan, kesunyian dan kedamaian. Sebuah laku yang menanggalkan kekuatan untuk berkuasa. Sebuah jalan spiritualisme kritis - menempatkan keseimbangan alam pada seluruh aspek kehidupan. Sehingga menekankan kedamaian antar sesama manusia dan makhluk hidup lainnya.
Nilai kasunyatan dari agama-agama timur dan kepercayaan lokal inilah yang hilang dari masyarakat modern saat ini. Karena seseorang akan benar-benar menjadi dirinya sendiri, yaitu di kala sendirian, sepi atau sunya. Namun beginilah kehidupan modern, manusia telah asing dengan budaya purba-nya.
@r.ruya

Posting Komentar untuk "MEMBANGKITKAN SPIRITUALISME KRITIS"