Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

KERENTANAN MASYARAKAT POSTMODERN


Dunia telah kehilangan ruh kesadaran, masyarakat telah hyperaktif mempertontonkan keangkuhan dalam bersikap dan berkehendak. Tak ada kebaikan yang dinarasikan sebagai sebuah keputusan yang adil dan bijak. Masyarakat selalu mengejar validitas, pengakuan terhadap posisinya sebagai makhluk yang "serba tahu" - sedang beberapa diantaranya benar-benar tidak memahami apa yang harus benar-benar terjadi.

Masyarakat kita banyak terbentuk oleh tipe wicara yang spekulatif, menjadi sebuah fakta bahwa pengetahuan yang ia ketahui harus segera diproyeksikan menjadi sebuah kebenaran yang bercokol pada hari ini.

Kerentanan mentalitas masyarakat yang dipersandingkan dengan dogma rigid menolak keterbantahan menjadi suatu institusi gambaran keberadaan masyarakat postmodern. Belum lagi persengkokolannya terhadap produk-produk modernitas, semakin menambah keyakinan pula bahwa masyarakat kita sedang tidak berada pada jalur bernalar yang pas. Kesadaran otonom masyarakat benar-benar telah dirampas oleh mitos modern, korporasi yang menjadi basis persekongkolan manusia berkerah putih.

Hegemoni yang menyeret moral masyarakat sampai pada titik terendah harus segera diputus. Nalar yang menjadi basis dialektika harus ditata kembali, habisi upaya-upaya yang selalu berusaha mengagungkan cover quality. Sadar tidak sadar, masyarakat yang sudah terjerumus ke dalam ruang "kebanggaan luar" yang diciptakan oleh narasi dusta "hantu" modernitas akan cenderung lebih mudah depresi dan acuh terhadap lingkungan sekitar.

Hal itu bukan tanpa alasan, mereka akan selalu mengejar kedigdayaan sebuah bentuk dalam mempertahankan naluri kepercayaan dirinya. Jika ia tak mampu mempertahankan bentuk proposionalnya, maka ia akan terkungkung dalam ruang kehampaan yang syarat akan penekanan mental - yang kemudian akan berujung pada ketidakpercayaan diri dan mengganggu daya kreatifnya dalam menjalani kehidupan.

Fenomena itu banyak terjadi pada masyarakat postmodern, namun nalarnya masih terperangkap pada naluri modernitas. Oleh sebab itu, kurangi ketergantungan-ketergantungan dengan produk modernitas yang spekulatif. Mari bersama-sama membangun imajinasi, dialektika kritis dan daya kreatif sebagai alat untuk menata ulang kehidupan yang lebih baik - membenahi kerentanan di beberapa sektor yang dianggap menjadi basis kemunduran peradaban masyarakat postmodern, diantaranya adalah sikap angkuh, rigid, tidak menerima perbedaan, intoleran dan eksklusif.

Dan di sisi lain, sikap yang tidak kritis dalam memanfaatkan sumber informasi dan perkembangan teknologi berupa sajian mitos masyarakat modern dalam bentuk produk-produk spekulatif maupun narasi yang membentuk kesadaran palsu.

Perlu di ingat, semua orang berhak memutuskan ingin menjalani kehidupan yang seperti apa dengan ritualnya masing-masing. Namun yang paling utama adalah jangan sampai nalar kita dibentuk oleh narasi-narasi sesat yang berimbas pada hilangnya kendali kita atas penggunaan daya kreatif, hati nurani dan nalar kritis yang telah diberikan secara gratis oleh tuhan kepada kita.

@rruya

1 komentar untuk "KERENTANAN MASYARAKAT POSTMODERN"