Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

SOSOK SATRIA WIGATI


Beberapa orang lebih gemar dan hobi untuk menjadi terlihat galak di hadapan umum. Menjadi terlihat lebih stoic dalam narasi peng-akuan terhadap respon sekitar juga menjadi garapan yang harus dipertahankan. Barangkali krisis perhatian merupakan basis dari adegan menjadi-jadi tersebut. Itulah hebatnya oknum "yang mesra" dengan dunianya yang penuh ketidak-aslian.

Fenomena itu banyak terjadi di instansi maupun organisasi yang memelihara pola struktural "senioritas". Tidak terkecuali pula dalam ruang universitas, seseorang rela menjadi-jadi yang lain "demi" mencari validitas idealismenya atau sekedar cari kegagahan semata.

Semua branding-branding tersebut sangat syarat terhadap pola penjarahan ke yang lain dan memiliki telos untuk menjadi yang utama, seorang ksatria. Namun apakah seorang ksatria butuh peng-akuan? Butuh sesuatu yang gagah dan suka penaklukan? Benar-benar wigati?

Tradisi Filosofi Jawa

Nalar yang berkembang di masyarakat jawa menampilkan sebuah sosok ksatria bukan dalam bentuk kegagahan, bertubuh besar dan suka perihal penaklukan layaknya superhero-superhero yang diciptakan dunia barat. Justeru filosofi jawa khususnya para seniman memperagakan sosok ksatria dengan wujud yang ramping, mirip ikonografi wayang.

Hal tersebut merupakan gambaran imajinasi masyrakat jawa terhadap bentuk ksatria wigati. Sebuah sifat yang disifati. Seorang ksatria yang memiliki pribadi wigati. Tidak banyak makan, tidur maupun berbicara. Sikapnya selalu diproyeksikan pada perkataan dan tindakannya. Ia menolak peng-akuan, lebih suka diam dan tidak suka penaklukan.

Di era saling sikut menyikut ini, masyarakat telah banyak kehilangan keaslian jati dirinya, sebab ia telah dikontrol oleh modernitas, lunturnya nilai religiusitas kearifan lokal juga menjadikannya sesosok zombie yang mudah di setel oleh wacana-wacana yang beredar di ruang digital. Belum lagi di luar sana banyak persekongkolan besar dalam membumikan sesuatu yang dianggap benar dengan sinisme dan kebencian diantara umat.

Kembali lagi, sosok ksatria wigati adalah mereka yang tahu dan tetap diam karena pertimbangan moralitas. Ia menahan kebenaran agar tidak sampai jatuh ke bumi pada hari ini. Ia juga khawatir terhadap hukum yang berlaku jikalau kebenaran tetap dipaksakan bercokol pada hari ini. Mentalitas masyarakat postmodern sangat rentan terhadap ketersinggungan. Dengan merefleksikan sikap sosok ksatria jawa barangkali menjadi opsi bagi kita dalam menjaga keberlangsungan hidup yang harmoni.

Sosok yang mampu menampilkan kebijaksanaan dalam merespon suatu fenomena adalah mereka yang sudah benar-benar memahami dirinya. Sebuah kerentanan mendasar seorang manusia adalah melakukan kesalahan. Begitupun sehebat apapun manusia, ia tidak bisa menghindari kesalahan. Ia tidak mampu mengendalikan "kekuatan adikodrati" tersebut. Manusia hanya mampu mengontrol keinginan dan persepsinya, di luar itu semua manusia cacat.

Sikap mengontrol, menahan - itulah yang benar-benar dibutuhkan di dalam kehidupan postmodern saat ini, melihat ketersinggungan diantara rakyat kepada pemerintah, komunitas dengan komunitas sangat tidak terkendali. Untuk meredam hal tersebut salah satunya adalah dengan menerapkan kebiasaan tidak banyak bicara, hindari pengakuan atau validitas jati diri. Biar kebenaran akan terus kita panggul, cukup kebaikan yang membumi. Karena kebaikan tidak melihat apa agamanya. Justeru kebenaran-lah yang mengundang perpecahan.

Oleh karena itu, jadilah seorang ksatria yang pantang pamrih kepada sesama. Ksatria yang ikhlas dan berjiwa besar. Ksatria yang mengakui kesalahan. Ksatria yang menutup aib teman-temannya dan bersedia membantu memperbaikinya dalam dialog privat.

@rruya

1 komentar untuk "SOSOK SATRIA WIGATI"