Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

SPIRIT KEBHINEKAAN MENEGUHKAN PERDAMAIAN (ANALISIS FILOSOFIS KONFLIK)

Saat ini Indonesia tengah dirundung ketegangan, rasa curiga, dominasi dan permusuhan di antara rakyatnya sendiri. Sebagai basis negara yang memiliki keanekaragaman kultur, ras, suku dan agama, Indonesia sering dielu-elukan oleh masyarakat dunia. Alih-alih menjadi perbincangan superioritas masyarakat dunia, nyatanya Indonesia tenggelam di sejumlah persoalan yang besar - yang harus segera terselesaikan. Menjadi negara yang besar dengan seluruh keanekaragaman yang ada memungkinkan banyak terjadinya perbedaan pendapat, pergesekan, bahkan penyimpangan-penyimpangan yang tidak sesuai dengan hukum konstitusi maupun adat masyarakat. Pecahnya masyarakat dan terbaginya ke dalam beberapa kelompok nampaknya merupakan implikasi dari sebuah kebijakan sistem bernegara. 

Ketegangan di Indonesia tidak cukup dinetralisir hanya dengan upaya dadakan sak ndekkan (sekali saja) melainkan harus konsisten menggunakan pendekatan pentahelix. Seluruh komponen masyarakat harus benar-benar bersedia menerima revolusi hebat ini, sebuah revolusi penyebaran virus perdamaian yang anti permusuhan dan kekerasan. Upaya perdamaian ini harus benar-benar menghilangkan seluruh sinisme di antara golongan atau kelompok tertentu. Sehingga konstruksi perdamaian benar-benar suci sebagai upaya revolusi religiusitas yang menghayati dan menerima perbedaan, sehingga kekerasan dalam bentuk apapun (langsung, kultural, struktural dan simbolis) benar-benar dapat dihindari.

Ketika dalam sebuah usaha perdamaian masih subur sinisme terhadap golongan tertentu, maka perdamaian itu adalah omong kosong. Karena perdamaian sejati adalah ketiadaan prasangka buruk di antara semuanya. Hal itu sesuai dengan kepentingan otonom setiap kelompok ataupun golongan, saling merasa melakukan yang terbaik untuk kehidupan bernegara dan beragama. Sehingga tidak perlu ada lagi ketegangan yang harus dipelihara. 

Melihat sejarah yang ada, ratusan bahkan ribuan kasus kekerasan, penganiayaan, pengeboman, penculikan mewarnai kehidupan negeri ini. Seperti kasus era Orde Baru (penculikan Marsinah, Wiji Tukul, dan beberapa aktivis lainnya), Pengeboman gereja, pembunuhan seorang Brigadir dan masih banyak lagi lainnya. Di era kontemporer saat ini, di tengah keterbukaan dan kebebasan berbicara, berpendapat dan akses internet - menjadikan persoalan semakin runyam, ujaran kebencian merebak di kehidupan nyata maupun dunia maya. Persoalan tersebut harus di analisis secara koheren dan radikal, di mana letak menjamurnya perilaku yang berpotensi merusak tatanan berbangsa dan bernegara. Sehingga persinggungan-persinggungan yang bersifat membangun (to build) harus secara masif dioperasikan sesegera mungkin. 

Menyoal Krisis Perdamaian

Tahun 2022 pengukuran skala perdamaian global atau Global Peace Index yang dirilis oleh Institute Economics and Peace menempatkan Indonesia pada ranking ke-47 dengan skor 1,8 sebagai negara paling damai di dunia. Sedangkan di puncak masih bertengger negara Islandia dengan skor 1,107 yang sudah  dipegangnya selama 8 tahun berturut-turut. Berdasarkan data tersebut, Indonesia masih tergolong sebagai negara yang ramah dan minim konflik. Adapun standar GPI dalam melakukan pengukuran adalah melalui tiga indikator utama, yaitu tingkat keamanan masyarakat, konflik domestik dan internasional serta tingkat militerisasi. 

Bagaimanapun pengukuran tersebut masih terbatas, bahkan indikator di dalamnya pun belum mampu menjangkau seluruh persoalan yang ada. Karena bercermin pada hari ini, Indonesia masih di rundung kegalauan yang berkepanjangan akibat masih maraknya praktek intoleransi, subordinasi, kekerasan struktural, slaing mendominasi, dan perilaku-perilaku rigit. Point pertama yang menjadi indikator GPI adalah yang paling utama dalam memberikan efek sosial di suatu masyarakat. Tentu, bagaimanapun perdamaian harus selalu diupayakan dan digelorakan. Kemudian beberapa orang menyadari bagaimana langkah awal dalam menciptakan ekosistem yang damai bahkan sampai kepada konsep perdamaian itu viral - menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Mungkin beberapa orang juga sudah memiliki opsi jawaban yang beragam. Namun yang harus perlu disadari adalah, bagaimana perdamaian itu akan terus tumbuh.

Bukan tanpa alasan, setiap orang selalu mencita-citakan perdamaian. Namun keberagaman masyarakat selalu saja menciptakan sekat dan hierarki dari struktur paling bawah sampai atas baik dalam urusan pendidikan, kelas sosial, budaya maupun kepentingan lainnya yang berujung pada ketidakseimbangan ekosistem masyarakat. Sehingga strategi dan metode menciptakan perdamaian haruslah bertumbuh, inovatif dan progresif. Sebelum lebih jauh kepada usaha memvirakan perdamaian, perlu rasanya menata kembali strategi dalam menciptakan perdamaian.

Pendekatan Atraktif

Manusia dikutuk untuk bebas dan apa yang dikatakan oleh Sartre tersebut adalah benar adanya, manusia akan menjadi dirinya sendiri tatkala telah menyelami lorong kebebasan. Kutukan subjek bebas menjadikan manusia menemukan eksistensinya. Dengan begitu manusia memiliki kuasa dalam berkehendak, termasuk melebur dalam beberapa ruang sosial. Melihat persoalan yang ada, filsafat menawarkan solusi yang nyata bukan spekulatif - sebagai suatu proses dalam mengembalikan makna kehidupan yang telah pudar. Dengan kebebasan yang dimiliki dan dengan pendekatan filosofis manusia akan menciptakan perdamaian. Karena berfilsafat adalah strategi memerangi ketidaktahuan dan mengarahkan manusia kepada tindakan yang rasional. Karena pikiran yang rasional akan mampu menyingkirkan tindakan-tindakan kekerasan dan mendekatkan kedamaian. 

Eric Weil seorang filsuf perdamaian kenamaan Perancis juga mengemukakan bahwa belajar filsafat akan mampu membentuk perilaku dan moral masyarakat melalui pendekatan yang rasional. Pikiran rasional yang dimaksud di sini adalah mampu mengoperasikan akal budi atau kesadaran otonom secara utuh dengan tidak memaksakan ambisi dalam mencapai superioritas atau menguasai. Jadi setiap orang haruslah memiliki tanggungjawab untuk saling menjaga, dan mengubah pandangan hidup bukan lagi berbasis antrophosentrisme, melainkan biosentrisme – setiap ciptaan yang eksis memiliki relevansi moral. Dengan begitu, kepekaan terhadap sesama akan semakin subur.

Kompleksitas problematika kehidupan harus ditangani dengan cara yang tepat dan benar, menggunakan pendekatan yang pentahelix, suatu kolaborasi sumberdaya yang berinteraksi secara sinergis. Dalam hal ini adalah mengoptimalkan seluruh komponen yang ada melalui pikiran yang rasional, baik dalam ruang pendidikan yang progresif, ruang keberagamaan yang toleran, kehidupan sosial berasaskan pancasila, keanekaragaman budaya, serta politik yang memanusiakan manusia.

Terlepas dari itu semua, perdamaian akan tumbuh secara merata tatkala keadilan mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat – meski kita menyadari bahwa perdamaian-pun juga syarat konflik, hal ini dikarenakan eksisnya keanekaragaman pemikiran dan kepentingan. Sehingga, kebijakan sistem bernegara haruslah sesuai dengan perundang-undangan. Semua orang di mata hukum harus mendapatkan perlakuan yang sama, tidak ada pembedaan kelas, pemimpin pun juga harus tegas dan bijaksana. Dengan begitu, ketersinggungan-ketersinggungan akibat perbedaan perlakuan dapat dihindari.

Sebab bukan masyarakat sipil saja yang dituntut untuk menciptakan perdamaian, melainkan pejabat pemerintahan juga harus mengampanyekan perdamaian, bukan hanya dengan kata-kata maupun kebijakan yang tumpang tindih – melainkan dengan sikap, tindakan, kinerja dan kebijaksanaan. Kurangi bahasa aforisme dalam kultur masyarakat Indonesia yang masih subur dengan tradisi bukti sebagai substansi, apalagi memamerkan gaya hidup yang hedonis. Masyarakat dewasa ini sudah sangat cakap dalam membaca gerak-gerik penguasa, hanya saja kurang dalam pengendalian emosi, sehingga kecaman, ujaran kebencian, kerusuhan banyak terjadi di sana sini akibat dari ketidakpuasan masyarakat terhadap kebijakan politik bernegara.

Masyarakat kita sangat mudah tersinggung dan terpecah belah. Sehingga berdialog, menyamakan persepsi, bertarung dengan argumen yang ilmiah dengan tetap memperhatikan moralitas – merupakan suatu keharusan – itulah yang harus dipercontohkan oleh pejabat-pejabat tinggi negara. Karena perdamaian tidak bisa diraih dengan cara kekerasan, melainkan menggunakan pemahaman, pengertian dan cara-cara halus lainnya – sebab itulah salah satu point manusia dikutuk untuk bebas secara rasional.

Langkah Konkrit

Kebebasan dan kemudahan mengakses internet harus bisa dipahami sebagai upaya dalam melihat substansi perdamaian secara utuh, termasuk belajar dari konflik-konflik dunia misalnya. Bagaimana konflik itu bermula dan bagaimana cara penyelesaiannya (menggunakan pendekatan apa saja). Sehingga jika sudah ditemukan persinggungan dalam mencapai perdamian, maka upaya selanjutnya adalah bagaimana perdamaian itu bisa viral, menyeluruh, setiap orang merasa bahwa perdamaian harus bertumbuh. 

Strategi budaya merupakan jalan yang bisa ditempuh dalam semangat mengampanyekan perdamaian, melalui pertunjukan-pertunjukan seni budaya, baik pementasan drama kolosal, pagelaran wayang atau bahkan pertunjukan musik yang menjadi budaya “ketenangan sosial” di suatu masyarakat. Sehingga kehidupan ini tidak saling mendominasi, tidak saling merasa paling benar dan masyarakat benar-benar larut dalam ruang kebhinekaan – tidak ada ideologi dan kepentingan politik yang mengganggu stabilitas kesadaran otonom masyarakat. Strategi budaya ini cenderung mengarah langsung kepada masyarakat secara luas tanpa adanya embel-embel kepentingan, dan salah satu yang utama adalah menekankan kepada struktur paling mendasar, yaitu generasi muda untuk senantiasa mencintai tanah air, menumbuhkan rasionalitas dan kepekaan untuk saling menjaga terhadap keberagaman dengan memperkenalkan keunikan yang di miliki bangsa Indonesia sedini mungkin.

Sedangkan dalam ranah politik ataupun kepentingan, strategi yang digunakan pun tentu jelas sangat berbeda. Perlu ada yang mentengarahi ketegangan antara kubu pemerintah maupun oposisi – melihat masyarakat dewasa ini sudah terkotak-kotak ke dalam pelbagai kepentingan.  Namun, nampaknya akhir-akhir ini sudah mulai ada upaya yang menumbuhkan rasionalitas dalam menjaga kebhinekaan dalam ruang publik oleh para tokoh negara ataupun aktivis perdamaian lainnya. Katakan saja Rocky Gerung, melalui strategi keterbukaannya (Chanel Youtube RGTV Official) dengan mencoba berdialog dengan para pejabat negara seperti Luhut Binsar Panjaitan dan Mahfud MD dalam mendiskusikan masa depan bangsa dalam percaturan perpolitikan. Usaha ini benar-benar menguatkan semangat kebersamaan, yang dimana sebelumnya Rocky sangat mengkritik pemerintahan habis-habisan, saat ini ia mulai terbuka dan bersedia mengajak berdialog dengan pejabat pemerintahan, sebuah langkah yang atraktif.

Dengan begitu, kita butuh lebih banyak lagi seorang mediator handal yang mampu menjembatani konflik internal maupun eksternal di dalam suatu struktur masyarakat. Sehingga kehidupan ini tidak terkotak-kotak akibat kepentingan elitis praktis dan kedamaian benar-benar dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Sekali lagi, perdamaian harus selalu diupayakan oleh seluruh masyarakat dan dengan cara yang variatif, utamanya adalah pemangku kebijakan. Karena dengan keadilan masyarakat akan merasa aman, tenang dan damai. Dan salah satu strategi untuk mempercepat penyebaran perdamaian adalah melalui jejaring sosial dan pendekatan sosial masyarakat. Salam Messengers of Piece !!! 

(rruya - dini.R)

Posting Komentar untuk "SPIRIT KEBHINEKAAN MENEGUHKAN PERDAMAIAN (ANALISIS FILOSOFIS KONFLIK)"