Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

KUTUKAN MASYARAKAT PSEUDO


Gambaran masyarakat akhir zaman cenderung terlihat lesu dan lemas. Kondisi yang akhir-akhir ini menjangkit masyarakat secara luas bukan tanpa sebab. Kebiasaan masyarakat akhir zaman atau bisa disebut dengan masyarakat penikmat pseudo yang syarat akan keindahan bangunan, cover, dan bentuk merupakan hasil dari perkawinan yang apik antara kemajuan zaman dengan krisis mentalitas.

Masyarakat pseudo ini terjebak kepada wacana palsu yang jauh dari kenyataan sosial. Karakteristik masyarakat era inilah yang menjadikannya lesu dan lemas, dimana standar keinginan yang terlalu tinggi dipasang pada mentalitas yang lembek. 

Krisis jati diri merupakan salah satu implikasi dari sedikit banyaknya masalah yang datang menghampiri namun tidak dapat teratasi dengan baik. Padahal jika kita mau berbicara mengenai kebebasan, manusia sebenarnya telah diciptakan merdeka dari hal apapun. Satu-satunya hal yang menghambat manusia adalah pikirannya sendiri, bukan orang lain. Sehingga menjadi pribadi yang lesu dan lemas bukanlah suatu pilihan yang sehat. Manusia harus bebas dari jebakan pseudo-pseudo yang menjanjikan.

Fakta Kelumpuhan

Di Indonesia yang notabene memiliki keragaman kebudayaan nusantara yang menjadi karakter identitas bangsa, berimplikasi pada ragamnya pembacaan mengenai pengendalian narasi yang mengambang di permukaan. Pada tahun 2022, dalam perayaan Hari Kesehatan Sedunia Indonesia menduduki peringkat ke-6 dari seluruh negara di dunia dalam hal gangguan mental dan kejiwaan. Dan peringkat ke-4 dalam kategori depresi paling tinggi. 

Fakta tersebut tentu bukan tanpa sebab, mentalitas masyarakat pseudo masih berorientasi kepada hasil, bukan proses. Sehingga masyarakat akan mengalami alienasi tatkala kenyataan tak sesuai dengan harapan. Belum lagi kemudahan mengakses segala sesuatu melalui gadget dengan tidak dibarengi kebijaksanaan menjadikan masyarakat era kini benar-benar bunuh diri dengan terjun bebas pada kelumpuhan.

Tradisi kepercayaan diri yang sudah dibangun berabad-abad lamanya (mentalitas purba) lenyap berangsur-angsur oleh sikap yang pesimis, bermental lembek, serta malas mencoba hal baru. Itu hanya segelintir persoalan yang menjadi musabab keruntuhan kesehatan mental bangsa Indonesia dalam pembicaraan dunia dan fakta internal bangsa. 

Kutukan Bebas dan Tombo

Sartre dengan apik memberikan fatwa yang menggugah semangat pikiran bangsa dengan mengatakan bahwa manusia terlahir dikutuk untuk bebas. Sehingga kebebasan tersebut harus dimaknai sebagai sebuah langkah awal dalam membebaskan diri dari segala belenggu. Keterikatan apapun di dunia ini semestinya tidak akan bertahan lama dan harus segera dikebumikan.

Kutukan bebas harus dipahami sebagai suatu langkah adaptif dan evaluatif yang mengarahkan kepada kepribadian yang tangguh, siap beraksi, bertanggungjawab, runtuhnya nalar kaku, mental lembek dan sikap-sikap yang oleh orang Jawa disebut nggersulo

Arahkan pikiran kepada hal-hal yang bisa dikendalikan, kubur dalam-dalam perasaan dan hal yang membuat mental lemah dan ketergantungan. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah hindari ideologi-ideologi bentuk yang mengandung kebenaran palsu yang bercokol pada cover ataupun erotisme sebuah produk dan bentuk. Karena mengendalikan pikiran sama pentingnya mengendalikan masa depan dunia. 

Sehingga kebebasan tersebut benar-benar bernilai bagi setiap masyarakat yang mampu menghayatinya. Bukan justeru kebebasan yang mengutuk seseorang menjadi lembek, ketergantungan dan cengeng. 

Bukankah setiap masa selalu ada kejutan-kejutan yang tak terduga, entah itu keberuntungan, kebahagiaan atau justeru sebaliknya, suatu kondisi yang menghancurkan perasaan kita - kedua orang tua meninggal, dipecat dari pekerjaan, kebakaran rumah, kecelakaan, berseteru dengan orang lain dan sebagainya. Sudah seyogyanya mari sehatkan mental kita, perbaiki perspektif kita dalam memandang dunia yang begitu luas, jangan terlena kepada bentuk-bentuk yang menggairahkan,  karena perjalanan kita masih sangat panjang - dan hiduplah dengan tenang. 

(Rruya) 


Posting Komentar untuk "KUTUKAN MASYARAKAT PSEUDO"